Renungan Harian Rabu, 14 Januari 2026

1Sam. 3:1-10,19-20; Mzm. 40:2,5,7-8a,8b-9,10; Mrk. 1:29-39; BcO Kej 3:1-24; (H)

Perbanyak mendengarkan daripada berbicara.

Mendengarkan

Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini menampilkan Yesus sebagai pribadi yang sangat sibuk melayani. Ia menyembuhkan ibu mertua Simon, lalu pada malam hari orang-orang berbondong-bondong datang membawa mereka yang sakit dan kerasukan. Yesus melayani semuanya dengan penuh belas kasih. Namun yang menarik, keesokan harinya Ia bangun pagi-pagi benar dan pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Di tengah kesibukan dan besarnya kebutuhan banyak orang, Yesus tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan Bapa. Ia mengajarkan kepada kita bahwa kesibukan pelayanan tidak boleh menggantikan relasi dengan Allah. Justru dari doa itulah Yesus memperoleh kekuatan, arah, dan kejelasan perutusan-Nya. Tanpa doa, pelayanan mudah berubah menjadi rutinitas yang melelahkan; dengan doa, pelayanan menjadi ungkapan kasih yang hidup.

Saudara-saudari terkasih, kita hidup di dunia yang penuh kebisingan. Pikiran kita sering dipenuhi oleh pekerjaan, studi, tuntutan ekonomi, media sosial, serta berbagai kekhawatiran hidup. Akibatnya, kita mudah lelah, cemas, dan kehilangan kedamaian batin. Tidak jarang kita melakukan banyak hal baik, namun hati terasa kosong karena kita lupa berhenti sejenak untuk berdiam dan mendengarkan Tuhan.

Sering kali kita merasa sudah dekat dengan Tuhan: rajin ke gereja, terlibat dalam pelayanan, dan mengenal banyak doa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita masih kesulitan mengenali suara Tuhan. Padahal, Tuhan tidak selalu berbicara melalui hal-hal yang luar biasa, melainkan melalui perkara sederhana: nasihat orang tua, teguran pasangan atau sahabat, tanggung jawab keluarga, tuntutan pekerjaan, bahkan melalui kegelisahan dan keheningan hati. Sayangnya, karena terlalu sibuk dengan agenda dan keinginan sendiri, suara Tuhan kerap kita abaikan atau tunda.

Doa, karena itu, bukan sekadar kewajiban rohani, melainkan ruang perjumpaan yang memulihkan jiwa. Dalam doa, kita belajar menata kembali hidup dan membuka diri terhadap kehendak Allah. Doa menolong kita untuk melihat kembali mana yang sungguh penting dan mana yang hanya menyita energi tanpa memberi kehidupan.

Marilah kita belajar dari Yesus yang menyediakan ruang hening di tengah kesibukan, dan dari Samuel dalam bacaan pertama yang akhirnya mampu mengenali panggilan Tuhan dan berkata, “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu mendengarkan.” Dengan sikap mendengarkan inilah hidup kita akan diarahkan oleh kehendak Tuhan dan menjadi kesaksian kasih-Nya bagi dunia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Markus Nicodemus Panggabean-Tingkat VI

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.