Renungan Harian Minggu, 25 Januari 2026

Minggu Biasa III-Pesta Pertobatan St. Paulus

Yes. 8:23b – 9:3; Mzm. 27:1,4,13-14; 1Kor. 1:10-13,17; Mat. 4:12-23 (panjang) atau Mat. 4:12-17 (singkat); BcO Kej 18:1-33; (H)

Seperti lilin yang terus menyala.

Hidup dalam Terang

Saudara-saudari yang terkasih. Hari ini kita diajak untuk menatap awal dari misi agung Yesus di Galilea. Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus tidak mundur, melainkan melangkah maju untuk memulai karya-Nya. Inilah momen bersejarah ketika nubuat Nabi Yesaya digenapi: bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar. Kristus hadir bukan di tempat yang megah, melainkan di wilayah pinggiran, di tengah orang-orang yang merasa terabaikan dan hidup dalam bayang-bayang maut.

Dalam Injil hari ini, kita melihat betapa kuatnya daya panggilan Yesus. Ia tidak memilih para penguasa atau ahli Taurat, melainkan para nelayan sederhana di tepi danau: Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Sabda-Nya singkat namun penuh kuasa, “Mari, ikutlah Aku.” Panggilan ini adalah undangan kasih yang mengubah hidup. Mereka meninggalkan jala, perahu, bahkan kenyamanan keluarga demi mengikuti Sang Terang. Ketika Terang sejati itu menyapa, kegelapan keraguan pun sirna.

Namun Injil juga menyuarakan seruan yang mendasar: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Bertobat berarti berbalik arah, meninggalkan cara hidup lama yang dikuasai egoisme dan kebencian, lalu berjalan menuju Terang Kristus. Yesus berkeliling mengajar dan menyembuhkan segala penyakit, menegaskan bahwa kehadiran Allah membawa pemulihan yang utuh bagi jiwa dan raga.

Saudara-saudari terkasih, kini pertanyaan itu beralih kepada kita: apakah kita bersedia meninggalkan “jala” keterikatan kita untuk mengikuti-Nya? Terang yang terbit di Galilea dua ribu tahun lalu tetap menyala hingga hari ini dalam kehidupan Gereja. Merayakan kehadiran Kristus berarti membiarkan diri dibimbing oleh sabda-Nya dan dipanggil menjadi “penjala manusia” bagi sesama. Dunia yang diliputi keputusasaan merindukan kasih Allah yang nyata melalui tangan dan hati kita.

Marilah kita membiarkan Terang Kristus merajai hidup kita, agar setiap langkah kita memancarkan kasih Allah bagi dunia yang sedang terluka. Seperti para murid yang segera meninggalkan jalanya, biarlah kita pun menyambut panggilan Tuhan dengan hati yang terbuka dan penuh sukacita. “Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar.” (Mat. 4:16). Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Tinon BayuTingkat V

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.