Misa Arwah Rm. Teja Antara SCJ: Iman dan Pengharapan Akan Kebangkitan

Para Konfrater SCJ yang mengikuti Misa Arwah Romo Teja Foto : Komsos KAPal

Suasana duka menyelimuti para Konfrater SCJ dan umat yang menghadiri Misa Arwah Rm. Teja Antara SCJ di Provinsialat SCJ Jl. Soak Permai Palembang, Minggu (22/2) pukul 18.00 WIB. Sekitar 300 umat, imam, serta biarawan-biarawati hadir untuk berkabung dan bersatu dalam doa, mengiringi kepergian Romo Teja ke pangkuan Bapa di surga.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Kusmaryanto SCJ dan didampingi oleh Romo Agus SCJ. Dalam homilinya, Romo Kusmaryanto mengangkat tema tentang pembenaran dan keselamatan dalam iman Kristiani. Ia menjelaskan bahwa pembenaran bukan berarti manusia menjadi benar karena perbuatannya, melainkan karena kasih karunia Allah.

Romo Kusmaryanto SCJ dan Romo Agus SCJ | Foto : Komsos KAPal

“Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita, tetapi semata-mata karena Allah mengasihi kita. Kasih Allah diberikan secara cuma-cuma,” ungkapnya.

Menurutnya, apabila keselamatan ditentukan dari timbangan antara perbuatan baik dan buruk, manusia tidak akan mungkin selamat. Karena itu, umat diajak untuk tidak mendoakan almarhum agar diterima karena amal baiknya, melainkan berharap pada kerahiman Allah yang mengampuni dosa setiap orang yang datang dalam pertobatan. Romo Kusmaryanto juga menegaskan bahwa keselamatan terjadi karena iman yang nyata dalam perbuatan.

“Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Jika kita beriman bahwa Allah adalah kasih, maka kita pun harus mengasihi sesama,” katanya.

Umat yang hadir dalam Misa Arwah Romo Teja | Foto : Komsos KAPal

Ia menambahkan, semakin seseorang hidup dalam iman yang diwujudkan dalam perbuatan kasih, semakin ia berjalan menuju keselamatan. Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa Romo Teja dibenarkan oleh Allah karena perwujudan imannya selama hidup.

Dalam refleksinya tentang kebangkitan, Romo Kusmaryanto mengingatkan bahwa kebangkitan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Ia menyinggung anggapan-anggapan keliru tentang kematian yang sering dihubungkan dengan ketakutan akan hal-hal mistis.

“Romo Teja tidak akan menjadi hantu. Ia akan dimuliakan bersama kemuliaan Allah. Maka menjadi aneh jika orang Kristiani justru takut kepada saudara yang telah meninggal,” ujarnya.

Foto : Komsos KAPal

Umat diajak untuk berani berharap akan kebangkitan berkat pengampunan Allah. “Kita memiliki jaminan dalam Yesus sendiri bahwa kita akan berjumpa kembali dalam kebangkitan badan,” tuturnya. Menutup homili dan atas nama rekan-rekan seangkatan, termasuk Romo Indra, Romo Gunawan, dan Romo Agus, Romo Kusmaryanto menyampaikan penghormatan terakhir.

“Romo Teja, selamat jalan. Masuklah ke dalam keabadian dan doakan kami agar kelak kami pun boleh berjumpa denganmu dalam kemuliaan Allah,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Romo Suwanto SCJ menambahkan bahwa semasa hidupnya Romo Teja memiliki beberapa keinginan yang belum terpenuhi. Namun, satu hal yang dipastikan akan dipenuhi adalah tempat peristirahatan terakhirnya.

“Satu-satunya yang akan kami penuhi adalah beliau dimakamkan di Pringsewu, Lampung,” ujarnya.

Foto : Komsos KAPal

Jenazah Romo Teja akan diberangkatkan ke Pringsewu pukul 24.00 WIB dan akan disemayamkan di Kapel Susteran FSGM Lampung. Kemudian akan diadakan Misa Requiem pada Senin, 23 Februari pukul 10.00 WIB. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian dan doa bagi almarhum.

“Kepada semua yang telah memberikan perhatian kepada Romo Teja, kami ucapkan terima kasih. Semoga mendapatkan rahmat yang setimpal dari Allah Yang Mahamurah,” tandasnya.

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.