HARI MINGGU PRAPASKAH I
Kej. 2:7-9; 3:1-7; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; Rm. 5:12-19 atau Rm. 5:12,17-19; Mat. 4:1-11. BcO Kel 5:1-6:1.

Menang atas Pencobaan, Setia pada Tuhan
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah I. Melalui bacaan hari ini, Gereja mengajak kita memasuki masa rahmat: masa pertobatan, masa pembaruan diri, dan masa persiapan hati untuk menyambut misteri keselamatan yang digenapi dalam wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Prapaskah bukan sekadar masa pantang dan puasa secara lahiriah, melainkan undangan untuk masuk ke dalam diri, melihat dengan jujur kelemahan dan dosa kita, serta meninggalkan segala bentuk kesombongan dan kelekatan yang menjauhkan kita dari Allah.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengarkan kisah Yesus yang dicobai oleh Iblis di padang gurun ketika Ia berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Dalam situasi lapar, lemah, dan sunyi itulah Iblis datang membawa tiga pencobaan: pencobaan kenikmatan jasmani (mengubah batu menjadi roti), pencobaan kesombongan dan kehebatan diri (menjatuhkan diri agar ditolong malaikat), serta pencobaan kekuasaan duniawi (menjadi penguasa atas segala kerajaan dunia).
Namun, Yesus tidak tergoda. Ia menolak semua tawaran itu dengan berpegang teguh pada Sabda Allah. Ia menunjukkan kepada kita bahwa hidup manusia tidak hanya bergantung pada hal-hal materi, bahwa Allah tidak boleh dicobai, dan bahwa hanya kepada Allah sajalah kita harus menyembah dan mengabdi. Dengan kesetiaan-Nya kepada Bapa, Yesus menang atas pencobaan dan membuka jalan keselamatan bagi kita semua.
Saudara-saudari terkasih, kisah ini sungguh relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tanpa kita sadari, pencobaan yang sama juga hadir dalam hidup kita: keinginan untuk selalu dipuaskan, dorongan untuk diakui dan dipuji, serta hasrat untuk memiliki kuasa, harta, dan kenyamanan lebih dari orang lain. Kita sering membandingkan diri dengan sesama, merasa kurang, iri hati, atau bahkan sombong atas apa yang kita miliki. Melalui Injil hari ini, Tuhan mengajak kita menguatkan iman lewat hidup doa yang lebih setia, puasa dan pantang yang sungguh, serta kasih dan solidaritas yang nyata.
Akhirnya, saudara-saudari terkasih, masa Prapaskah adalah kesempatan berharga untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang rendah dan terbuka. Marilah kita belajar dari kesetiaan Yesus kepada Bapa, agar melalui doa, puasa, dan karya kasih, hidup kita semakin diperbarui dan layak menyambut kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Krisna Kilo–Tingkat V
Foto: Pinterest
