
Suasana di Wismalat Podomoro, Banyuasin, mendadak hangat pada Selasa (3/3/2026) petang. Sebanyak 170 peserta yang terdiri dari para romo, biarawan-biarawati, serta perwakilan umat dari lima Dekanat di Keuskupan Agung Palembang (KAPal) berkumpul untuk membedah masa depan kaderisasi Gereja.
Dipandu oleh Romo Agustinus Giman, Ketua Komisi Kitab Suci, Kateketik, dan Liturgi KAPal, pleno hasil diskusi dekanat dan kelompok ormas dan kategorial sesi kedua ini berhasil memetakan “simpul-simpul” penting dalam mencetak kader-kader Gereja dan masyarakat di masa depan.

Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata
Dalam diskusi yang mencermati Pedoman Sistem Kaderisasi KAPal, muncul masukan agar modul yang dibuat dapat menghadirkan implementasi yang lebih sederhana dan mempertimbangkan kearifan lokal serta pendekatan budaya. Tak hanya itu, kaderisasi diharapkan tidak hanya berhenti di pelatihan, tapi sampai pada tahap distribusi kader ke berbagai bidang, termasuk sektor pertanian.
Menghadapi Tantangan Zaman
Diskusi juga mengungkap beberapa “curhatan” atau keprihatinan di tingkat paroki dan dekanat. Mulai dari sulitnya mencari pribadi yang mau terlibat, minimnya tim kaderisasi, hingga kesenjangan antargenerasi.

Satu hal yang menarik perhatian adalah fenomena Orang Muda Katolik (OMK) yang saat ini lebih tertarik pada kegiatan rekreatif. Selain itu, peran keluarga dianggap masih kurang dalam memperhatikan pembinaan iman anak sejak dini.
Profil Kader dan Langkah Strategis
Lantas, kader seperti apa yang dibutuhkan KAPal? Peserta merumuskan profil kader yang ideal, yaitu sosok yang punya integritas, militan, dan misioner.

Sebagai tindak lanjut, muncul usulan strategis untuk membentuk tim kaderisasi di setiap paroki. Gereja juga berencana merangkul para guru melalui koordinasi dengan yayasan, serta mengajak para profesional seperti TNI/Polri dan pegawai pemerintahan untuk berdialog dan terlibat aktif dalam pelayanan.
Dengan semangat kolaborasi lintas dekanat, mulai dari Jambi, Lubuk Linggau, Bengkulu, Belitang, hingga Palembang, Gereja KAPal optimistis dapat mencetak kader-kader yang dinamis, kritis, namun tetap rendah hati.
***TJK (Redaksi)
