“Keallahan Kristus memeluk kemanusiaan kita”
Merupakan kalimat reflektif yang menjadi tema sentral dalam rekoleksi yang dibawakan oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, pada Kamis (5/3/2026) pagi. Rekoleksi ini sekaligus menjadi permenungan penutup Hari Studi Imam Keuskupan Agung Palembang (KAPal) yang berlangsung sejak 3-5 Maret 2026 di Wismalat Podomoro, Banyuasin. Tema tersebut berakar kuat pada visi KAPal, di mana peserta yang terdiri dari para imam, biarawan dan biarawati diajak untuk menyadari identitas luhur mereka sebagai saudara-saudari Kristus.

Ekaristi: Pemberian Diri yang Tak Terputus
Dalam pemaparannya, Mgr. Yuwono menegaskan bahwa Ekaristi bukan sekadar ritus mengenang masa lalu, melainkan pemberian diri Kristus yang terjadi secara terus-menerus demi keselamatan manusia. Beliau menekankan pentingnya sinkronisasi antara cara pikir manusia dengan semangat Ekaristi.
“Cara pikir kita hendaknya sesuai dengan Ekaristi, dan sebaliknya, Ekaristi memperkuat cara pikir kita. Kita bersyukur karena memiliki Yesus sebagai Saudara yang tanpa pamrih mengorbankan diri-Nya sebagai silih atas dosa agar manusia beroleh hidup kekal,” tegas Bapa Uskup.
Penyempurnaan Kurban Perjanjian Baru
Mgr. Yuwono menjelaskan secara teologis bahwa Ekaristi merupakan penyempurnaan dari kurban-kurban di Perjanjian Lama. Jika dahulu Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur, serta manna di padang gurun menjadi lambang, maka dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah Anak Domba Tak Bercela yang dikurbankan.

Perbedaan mendasar digambarkan sebagai berikut: dalam Perjanjian Lama, para imam mempersembahkan hewan sebagai kurban. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, Kristus hadir sebagai Imam sekaligus Kurban itu sendiri, mempersembahkan jiwa dan raga-Nya secara utuh.
Transsubstansiasi: Perjumpaan
Bapa Uskup juga memberikan katekese mendalam mengenai Transsubstansiasi. Beliau menjelaskan bahwa saat konsekrasi, materi roti dan anggur tidak berubah secara lahiriah, namun substansinya telah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang nyata (Real Presence).

Beliau meluruskan pandangan keliru dengan menegaskan bahwa Ekaristi bukanlah perjamuan kanibal. Ekaristi adalah perjamuan perjumpaan yang melampaui hal-hal lahiriah: sebuah persatuan mistik antara Gereja sebagai Tubuh dan Kristus sebagai Kepala yang tidak dapat dipisahkan.
Misi Persaudaraan Sejati
Menutup rekoleksi, Mgr. Yuwono mengingatkan bahwa spiritualitas Ekaristi harus bermuara pada tindakan sosial. Keallahan Kristus yang telah memeluk kemanusiaan kita harus diteruskan oleh umat dengan memeluk sesama melalui persaudaraan sejati.
Perutusan ini menjadi nyata dalam seruan “Ite Misa Est”. Umat yang telah menyambut Kristus diutus untuk membangun persaudaraan dengan semua orang, meneladani kasih Kristus yang inklusif dan tak terbatas.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
