Renungan Minggu, 8 Maret 2026

HARI MINGGU PRAPASKAH III

Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42 (panjang) atau Yoh. 4:5-15,19b-26,39a,40-42 (singkat); BcO Kel. 22:20-23:9; (U)

Tetesan air pelepas dahaga.

HAUS

Saudara-saudari terkasih, dari kisah bangsa Israel di padang gurun, surat Santo Paulus, hingga perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, kita menemukan satu benang merah: tentang kehausan dan pemenuhannya. Haus adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Ketika tubuh haus, kita tidak bisa berpura-pura. Setelah lelah bekerja atau berolahraga, kita langsung mencari air tanpa menunda. Kita sadar, tanpa air kita akan semakin lemah. Haus membuat kita jujur terhadap kebutuhan kita.

Bangsa Israel di padang gurun juga mengalami kehausan yang nyata. Mereka takut mati dan mulai bersungut-sungut. Namun di balik keluhan itu ada kebutuhan yang sungguh mendesak. Allah tidak mengabaikan mereka. Ia memancarkan air dari batu sebagai tanda bahwa Ia peduli dan hadir dalam kebutuhan manusia yang paling dasar. Allah menunjukkan bahwa Ia bukan Tuhan yang jauh, tetapi Tuhan yang memperhatikan.

Melalui Santo Paulus, makna haus itu diperdalam. Paulus mengatakan bahwa kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita. Seperti tubuh membutuhkan air, hati pun membutuhkan kasih Allah agar tidak kering oleh dosa, luka, dan ketakutan. Tanpa kasih-Nya, hidup rohani kita menjadi gersang dan mudah goyah.

Dalam Injil, Yesus menyatakan diri sebagai sumber “air hidup” yang memuaskan dahaga terdalam manusia. Pertanyaannya, ketika jiwa kita haus, apakah kita segera datang kepada-Nya? Ataukah kita mencari “air” lain yang hanya menyegarkan sesaat? Hanya Kristuslah sumber yang memberi kehidupan sejati. Maka marilah kita datang kepada-Nya dan membiarkan hati kita dipenuhi oleh air hidup itu. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Tinon Bayu-Tingkat V

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.