Renungan Harian Kamis, 12 Maret 2026

Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Luk. 11:14-23; BcO Kel. 34:10-28; (U)

Serahkan segalanya kepada Tuhan.

Tuhan yang Memulihkan

Saudara-saudari terkasih, perjalanan rohani kita sering kali diuji melalui satu hal yang tampak sederhana: kesetiaan untuk mendengarkan. Dalam bacaan pertama dari Nabi Yeremia, Tuhan menyampaikan kerinduan-Nya yang paling mendasar, yakni agar kita mendengarkan suara-Nya supaya Ia menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya. Namun ada peringatan yang tegas: sering kali manusia justru melangkah mundur, bukan maju, karena lebih memilih mengikuti kedegilan hatinya sendiri.

Ketidaksetiaan ini biasanya tidak dimulai dengan penolakan yang besar. Ia sering muncul perlahan-lahan, ketika perhatian kita mulai terbagi dan hati kita tidak lagi sepenuhnya peka terhadap suara Tuhan. Persis seperti peringatan dalam Kitab Keluaran, bahaya muncul ketika manusia mulai memberi ruang bagi hal-hal lain untuk menggantikan Tuhan dalam hidupnya. Tanpa disadari, hati menjadi tumpul dan jarak dengan Tuhan semakin melebar.

Dalam Injil Lukas, Yesus menegaskan bahwa “setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti runtuh.” Sabda ini dapat kita renungkan sebagai cermin bagi kehidupan batin kita. Jika hati kita terbagi antara keinginan duniawi dan kehendak Tuhan, maka kehidupan rohani kita akan mudah goyah. Karena itu Yesus mengajak kita untuk memiliki sikap yang jelas dan tegas: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.” Ini bukan ancaman, melainkan undangan untuk menyatukan kembali hati kita kepada-Nya.

Masa Prapaskah menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memeriksa kembali “pendengaran” batin kita. Mungkin kita merasa sudah beriman, tetapi dalam kenyataannya kita lebih sering mendengarkan suara ego, amarah, atau kepentingan pribadi daripada bisikan lembut Roh Kudus. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan yang luar biasa dari kita; Ia hanya menginginkan hati yang terbuka dan tidak keras kepala.

Karena itu, marilah kita belajar menyediakan waktu hening di tengah kesibukan hidup kita. Dalam keheningan doa, kita dilatih untuk kembali mendengarkan Tuhan. Dari situlah Tuhan memulihkan kepekaan rohani kita, sehingga pikiran, perkataan, dan tindakan kita semakin mencerminkan kehendak-Nya. Semoga dengan hati yang sederhana namun teguh, kita semakin setia berjalan bersama Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Nikodemus Panggabean-Tingkat VI

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.