
Pendidikan Katolik di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera, kini berada pada titik balik krusial. Dalam pertemuan Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera yang berlangsung di Aula Gratia, Wismalat Podomoro, Kamis (12/3/2026) pagi hingga siang, ditegaskan urgensi transformasi institusi pendidikan menjadi sarana penginjilan yang hidup.
Pertemuan yang mengusung tema sentral: “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera” ini dihadiri oleh 40 utusan, terdiri dari Komdik Keuskupan, MPK, yayasan pendidikan, serta pimpinan perguruan tinggi Katolik se-Regio Sumatera.
Pendidikan Transformatif
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM, dalam paparannya berjudul Kebijakan MNPK: Arah dan Harapan Baru Pendidikan Katolik menekankan bahwa sekolah Katolik harus melampaui peran akademik konvensional. Mengutip Nelson Mandela, ia menyatakan bahwa pendidikan adalah senjata terkuat untuk mengubah dunia, namun efektivitasnya bergantung pada identitas dan tata kelola yang profetis.

Ia juga mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus tentang pendidikan, yang menegaskan bahwa sekolah Katolik harus diurus oleh pribadi-pribadi yang diilhami oleh Kitab Suci, pedagogi cinta Kristiani, dan pendekatan Emaus.
Menurutnya, sekolah harus menjadi pembawa kabar baik (evangelisasi) di tengah tantangan zaman. “Sekolah Katolik harus menjadi sarana evangelisasi; kita harus menjadi pembawa kabar baik, bukan sebaliknya, kabar buruk”, ungkapnya.
Sentra Belajar Guru
Menyikapi fenomena penurunan jumlah murid dan belum meratanya kompetensi guru, ia juga mengungkapkan perlunya mengembangkan Sentra Belajar Guru (SBG) sebagai motor transformasi ekosistem pendidikan. SBG dirancang bukan sekadar pusat pelatihan, melainkan strategi pembaruan untuk peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan dalam aspek pedagogis, spiritualitas, kepemimpinan, hingga literasi digital dan etika AI; menjadi ruang kolaborasi untuk memperjuangkan kesejahteraan guru yang lebih adil melalui sertifikasi, jejaring, dan manajemen kinerja yang transparan; dan memperkuat manajemen tata kelola sekolah agar lebih visioner, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan (servant leadership).

Enam Pilar Kurikulum Unggul
Sebagai peta jalan, Romo Darmin menawarkan enam gagasan kurikulum untuk memperkuat ekosistem pendidikan Katolik, yaitu kurikulum berbasis spiritualitas Katolik dan martabat manusia, kurikulum yang membentuk manusia seutuhnya, kurikulum berbasis kompetensi dan karakter, kurikulum sosial pastoral sebagai realisasi misi Gereja, kurikulum relasional: Guru sebagai kurikulum hidup, serta kurikulum era digital dan etika teknologi.
Langkah Strategis
Kegiatan yang berlangsung mulai 11-14 Maret ini menjadi ruang refleksi dan diskusi bersama secara intensif guna merumuskan arah kebijakan strategis. Fokus utamanya adalah membangun sistem mutu berbasis data dan spiritualitas, serta melahirkan kepemimpinan yang melayani.

Pertemuan ini ditutup dengan penegasan bahwa keunggulan sekolah Katolik tidak lagi hanya diukur dari nilai akademik semata, melainkan dari sejauh mana sekolah mampu mencetak agen transformasi sosial yang humanis dan ekologis bagi masa depan pendidikan di wilayah Sumatera.
** Diakon Bednadetus Aprilyanto
