Relawan Adalah Wujud Kasih: Mgr. Aloysius Sudarso Buka Hari Kedua Sosialisasi Paroki Tangguh

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Mengawali hari kedua kegiatan Sosialisasi Program Paroki Tangguh, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan KARINA (Caritas Indonesia), hadir memberikan pengantar kepada para peserta sebelum sesi materi dilanjutkan oleh tim KARINA. Kegiatan yang berlangsung di Aula Gloria Wisamalat Podomoro pada Sabtu (14/3) pukul 08.00 WIB ini diikuti para pengurus PSE dan relawan kebencanaan dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Agung Palembang.

Dalam pengantarnya, Mgr. Aloysius menegaskan bahwa relawan bukan sekadar tenaga bantuan tambahan, melainkan wujud nyata penghargaan terhadap nilai kemanusiaan dan kasih.

“Relawan bukan hanya tenaga tambahan, tetapi wujud dari kita menghargai nilai kemanusiaan dan kasih,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Mgr. Aloysius Sudarso bersama pemateri dari Yayasan KARINA | Foto : Komsos KAPal

Ia berharap para peserta yang hadir dapat menjadi relawan Gereja yang mampu mewujudkan nilai kemanusiaan secara terorganisir dengan tata kelola yang baik, sehingga Gereja semakin menampakkan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, kehadiran relawan di tengah masyarakat menjadi tanda nyata kehadiran kasih Tuhan.

“Gereja diharapkan mampu menampakkan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat. Dengan demikian, wajah Tuhan tampak di tengah kita,” ujarnya.

Mgr. Aloysius juga mengajak para peserta untuk menjadi penggerak kebersamaan di paroki masing-masing, dengan membangun solidaritas yang berbasis komunitas.

“Anda diharapkan menjadi penggerak kebersamaan di paroki dan di tengah masyarakat, bergerak dalam solidaritas berbasis komunitas,” tuturnya.

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Ia menekankan pentingnya menggerakkan berbagai sumber daya yang ada di paroki untuk membantu mereka yang tersisih, rentan, dan miskin. Para relawan diharapkan mampu menghubungkan sumber daya tersebut dengan pihak-pihak yang membutuhkan.

Selain itu, keberadaan relawan dinilai sangat penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pembekalan agar para relawan mampu merespons situasi darurat secara tepat.

“Relawan diharapkan dapat mengurangi risiko bencana, karena itu diperlukan pelatihan tentang bagaimana cara menanggapi bencana,” jelasnya.

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

Ia juga mengingatkan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan para relawan adalah memetakan potensi bencana yang sering terjadi di wilayah paroki masing-masing, kemudian menindaklanjutinya dengan aksi nyata. Sebagai relawan, lanjutnya, pelayanan kemanusiaan dilakukan atas dasar kerelaan hati. Semangat inilah yang menjadi kekuatan utama dalam pelayanan kepada sesama.

Pertemuan sosialisasi ini bertujuan membina kemampuan dan kompetensi para relawan dalam pelayanan kemanusiaan. Dengan demikian, para relawan dapat menjadi tulang punggung pelayanan Gereja dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk bencana alam.

Peserta Sosialisasi Program Paroki Tangguh | Foto : Komsos KAPal

“Menjadi relawan berarti menjadi tulang punggung kemanusiaan. Melalui relawan, Gereja menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Mgr. Aloysius.

Ia berharap semangat pelayanan ini terus diteruskan oleh Gereja agar semakin nyata menghadirkan wajah Tuhan yang peduli terhadap penderitaan manusia.

“Relawan yang tanggap dan penuh kasih diharapkan mampu mempercepat pemulihan ketika terjadi bencana, penyakit, maupun penderitaan,” pungkasnya.

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.