HR Kenaikan Tuhan
Kis. 1:1-11; Mzm. 47:2-3,6-7,8-9; Ef. 1:17-23; Mat. 28:16-20. BcO Kis. 22:17-30.
Mandiri dalam Iman

Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Melalui Kisah Para Rasul kita melihat para murid yang menyaksikan Yesus terangkat ke surga setelah sekian lama hidup bersama mereka. Peristiwa ini tentu bukan hal yang mudah dipahami, karena sebelumnya mereka selalu bergantung pada kehadiran Yesus secara langsung, mendengar ajaran-Nya, melihat mukjizat-Nya, dan merasakan bimbingan-Nya setiap hari.
Ketika Yesus naik ke surga, para murid bisa saja merasa bingung, kehilangan arah, bahkan takut menghadapi masa depan. Namun, Yesus sebenarnya tidak meninggalkan mereka begitu saja. Ia memberikan janji bahwa Roh Kudus akan datang sebagai penolong, penghibur, dan penuntun dalam hidup mereka. Selain itu, para malaikat juga mengingatkan agar para murid tidak hanya diam dan terpaku melihat ke langit, tetapi segera kembali menjalani tugas mereka di dunia. Dari sini kita belajar bahwa Kenaikan Tuhan bukanlah tanda perpisahan yang menyedihkan, melainkan awal dari tanggung jawab baru: para murid harus mulai mandiri dalam iman dan berani melanjutkan karya yang telah Yesus mulai.
Pesan ini menjadi semakin jelas dalam Injil, ketika Yesus memberikan perutusan terakhir kepada para murid. Ia berkata, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” yang berarti para murid tidak boleh menyimpan iman hanya untuk diri sendiri, tetapi harus membagikannya kepada orang lain. Mereka dipanggil untuk mengajar, membaptis, dan menunjukkan kasih Tuhan dalam kehidupan nyata. Tugas ini tentu tidak mudah, karena mereka akan menghadapi berbagai tantangan seperti penolakan, kesulitan, bahkan ancaman. Namun Yesus tidak hanya memberi perintah, Ia juga memberikan jaminan yang sangat penting: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Ini berarti kehadiran Yesus tetap nyata, walaupun tidak terlihat secara fisik. Ia hadir melalui Roh Kudus, melalui kekuatan iman, dan melalui setiap kebaikan yang dilakukan para murid. Dengan demikian, perutusan ini bukanlah beban yang harus dipikul sendiri, tetapi tugas yang dijalankan bersama Tuhan yang selalu setia menyertai.
Saudara-saudari terkasih, kita pun diundang untuk menyadari tugas perutusan kita. Kita mungkin tidak pergi ke tempat yang jauh atau melakukan hal besar seperti para rasul, tetapi kita tetap memiliki tugas yang sama: menghadirkan kasih Tuhan dalam hidup kita. Hal ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti berkata jujur, menghargai orang lain, membantu teman yang kesulitan, menjaga kerukunan dalam keluarga, dan tidak mudah menghakimi sesama. Sering kali kita berpikir bahwa menjadi saksi Tuhan itu sulit atau hanya tugas orang-orang tertentu, padahal sebenarnya setiap orang bisa melakukannya melalui sikap dan tindakan sehari-hari.
Peristiwa Kenaikan Tuhan mengingatkan kita bahwa iman tidak cukup hanya disimpan dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Norbertus Prestus Bidho (Tingkat I)
