Mi. 6:1-4,6-8; Mzm. 50:5-6,8-9,16bc-17,21,23; Mat. 12:38-42
Iman yang Sejati

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini memperlihatkan kepada kita bahwa Yesus adalah puncak dari cinta Allah yang menyelamatkan manusia. Ia hadir dalam seorang Pribadi dan tinggal bersama kita, manusia yang penuh dosa. Yesus adalah tanda yang paling mulia dari Allah; lebih besar daripada para Nabi dan Raja Salomo yang terkenal dengan kebijaksanaannya itu. Sebab, Dialah Allah kita.
Dalam Injil dikisahkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli Taurat sedang meminta tanda pada Yesus: “Guru, kami ingin melihat tanda dari pada-Mu”. Permintaan ini hendak menunjukkan kebutaan iman mereka. Mereka yang adalah para tokoh agama Yahudi malah tidak mampu menangkap dan mengalami kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus, yang jauh lebih tinggi dan mulia daripada Nabi Yunus dan Salomo. Bahkan, penginjil secara keras membandingkannya dengan penduduk Niniwe dan Ratu dari Selatan. Penduduk Niniwe yang adalah orang-orang kafir saja bertobat setelah mendengarkan pewartaan Yunus. Demikian pula Ratu dari Selatan yang juga seorang kafir justru terbuka pada kebijaksanaan Allah yang disampaikan oleh Raja Salomo.
Saudara-saudari terkasih, iman sejati tidak butuh tanda. Iman kepada Yesus Kristus berarti kita menerima dan mengakui kebenaran Sabda Allah dalam diri-Nya serta melaksanakannya dalam hidup sehari-hari. Maka, marilah kita menanggapi panggilan kasihNya itu dengan membangun komunikasi dan persekutuan yang mendalam dengan Yesus. Beriman juga berarti kita bersedia memikul salib Kristus dalam hidup sehari-hari. Salib adalah kuk yang diberikan Allah pada kita dan harus kita pikul dengan penuh cinta dan kesetiaan. Di kala salib itu terasa berat, pandanglah salib Tuhan yang agung dan mulia itu. Ia rela mati untuk kita dan demi keselamatan kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Felix Widicahyadi
