Hari Biasa
1Kor 5:1-8; Mzm 5:5-6.7.12; Luk 6:6-11. BcO 2Ptr 1:12-21
Antara Aturan & Belas kasih

Saudara-saudari terkasih, di era digital yang serba cepat ini, jemari kita begitu terbiasa mengetik komentar-komentar tajam, menhakimi kesalahan orang lain seketika, dan membagikan ulang aib sesama demi sebuah sensasi atau rasa benar pribadi. Seakan kita menjadi pengamat yang siap mengumbar kejelekan orang lain dan menutup mata pada kebenaran dan kebaikan yang terjadi dibalik sebuah peristiwa.
Suasana digital ini terasa mirip dengan suasana dalam Injil hari ini, di mana para ahli Taurat dan orang Farisi mengamat-amati Yesus bukan untuk belajar, melainkan untuk mencari-cari kesalahan yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk menyingkirkan Yesus dari Bait Allah. Mereka begitu teliti menjaga kemurnian aturan luar, namun dalam hati, tangan rohani mereka telah mati rasa terhadap belas kasih dan lumpuh dalam mengampuni. Kita pun sering terjebak dalam mentalitas serupa, sangat peka dalam melihat noda kecil di hidup orang lain, namun lalai pada kebusukan ego dan kebencian yang menggerogoti jiwa kita sendiri.
Pernyataan Yesus hari ini sukses menembus batas kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi. Dengan tegas Ia berkata, “Manakah yang diperbolehkan pada hari sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya?”. Ditengah amarah dan kejengkelan orang-orang farisi yang ingin menjatuhkan-Nya, Yesus justru menunjukkan duka yang mendalam atas ketegaran hati mereka. Ia ingin menunjukkan betapa pentingnya mempertahankan kebenaran sekaligus ketenangan untuk mengendalikan situasi yang terjadi, bukan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Peristiwa di Bait Allah hari ini sangat berhubungan dengan teguran keras Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dalam bacaan pertama. Rasul Paulus mengecam para jemaat yang membiarkan hatinya digerogoti oleh dosa dan kesombongan. Ia mengajak para jemaat di Korintus untuk membersihkan “ragi lama” yang berisi kejahatan, dan mengenakan “roti tak beragi” yang berisi kejujuran dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, bacaan suci hari ini menjadi cermin koreksi yang amat tajam bagi kehidupan kita sehari-hari, terumata dalam cara kita memperlakukan sesama di sekitar kita. Sabat atau aturan agama diciptakan untuk memanusiakan manusia, bukan untuk menghancurkan hati nurani kita dan menggantinya dengan penghakiman terhadap orang lain. Marilah kita menjadi alat belas kasih Kristus yang menyembuhkan, memulihkan dan menyelamatkan mereka yang terluka di sekitar kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Natalius Alan Tingkat II
