Hari Minggu Biasa XXIV
Sir. 27:33-28:9; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Rm. 14:7-9; Mat. 18:21-35. BcO Est 1:1-3.9-16.19; 2:5-10.16-17
MAAF = Mau Ampuni Agar Hati Free (bebas).

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni?” Petrus bahkan merasa sudah sangat baik ketika menawarkan tujuh kali. Namun Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus tidak sedang meminta kita menghitung berapa kali harus mengampuni, tetapi mengajak kita memiliki hati yang tidak mudah lelah dalam memberikan pengampunan. Sebab, kita sendiri adalah orang-orang yang setiap hari hidup dari belas kasih Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, mengampuni memang tidak selalu mudah. Ada kesalahan yang sederhana, tetapi ada juga luka yang begitu dalam sehingga sulit dilupakan. Kadang kita berkata, “Saya sudah memaafkan, tetapi saya tidak akan pernah melupakannya.” Melalui perumpamaan tentang hamba yang telah dihapuskan hutangnya tetapi tidak mau mengampuni sesamanya, Yesus mengingatkan bahwa kita jangan sampai menikmati pengampunan Tuhan, tetapi sulit memberikan pengampunan kepada orang lain. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memilih untuk tidak terus dikuasai oleh luka dan dendam.
Sebagai seorang frater yang akan menjalani masa kerasulan, sabda ini menjadi bekal yang penting bagi saya. Dalam kerasulan nanti, saya akan bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda. Tidak semuanya akan berjalan sesuai harapan. Mungkin ada perkataan yang menyakiti, sikap yang mengecewakan, atau situasi yang membuat saya kehilangan kesabaran. Di situlah saya belajar bahwa kerasulan bukan hanya tentang mengajar atau berbicara tentang Tuhan, tetapi juga tentang menghadirkan kasih Tuhan melalui cara saya memperlakukan orang lain.
Saudara-saudari, kita boleh terluka, tetapi jangan sampai luka itu tinggal terlalu lama dalam hati. Hari ini mungkin kita bisa bertanya: “Siapa yang masih sulit saya ampuni?” Tidak harus langsung melupakan semuanya. Cukup mulai dengan doa sederhana: “Tuhan, saya belum mampu mengampuni sepenuhnya, tetapi ajarlah saya untuk mau mengampuni.” Sebab ketika kita belajar mengampuni, kita bukan hanya membebaskan orang lain, tetapi juga membebaskan hati kita sendiri. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Romualdus Dwi Tingkat III
