
PEMATANGSIANTAR — Pelayanan Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja Katolik bukanlah sekadar urusan kecanggihan teknologi atau kepiawaian mengoperasikan perangkat. Lebih dari itu, hati dan kepribadian para pegiatnya yang telah diubah oleh Kristus menjadi inti utama dari setiap karya pelayanan.
Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam Perayaan Ekaristi Pembuka Pertemuan Komsos dan SIGNIS Regio Sumatera yang digelar di Kapel Catholic Center-Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan (CC-PPU KAM), Pematangsiantar, Senin (21/9/2026). Perayaan ini dipimpin oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Petrus Noegroho Agoeng, didampingi sejumlah imam konselebran, di antaranya Ketua Komisi Komsos KAM, Romo Benno Ola Tage dan Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Palembang, Romo Titus Jatra Kelana.

Pertemuan yang berlangsung empat hari, mulai 22–25 September 2026 dan mengusung tema Menjadi Pewarta yang Bijak Menggunakan AI di Era Digital ini diikuti 35 peserta dari enam keuskupan di Regio Sumatera, yaitu Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Padang, dan Keuskupan Tanjungkarang.
Dalam homilinya, Romo Agoeng mengaitkan pelayanan Komsos dengan kisah Bunda Maria ketika mencari Yesus. “Dalam Injil, Yesus mengatakan, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Perkataan itu, jika didengar secara sepintas, dapat terasa keras, bahkan menyakitkan bagi seorang ibu,” tuturnya.
Romo Agoeng membayangkan bagaimana perasaan Maria ketika mendengar perkataan tersebut. Maria datang mencari anaknya, tetapi justru berhadapan dengan perkataan yang mungkin tidak mudah diterima.
Namun, Maria tidak berhenti pada rasa sakit. Ia menemukan makna yang lebih dalam. Perkataan Yesus bukanlah penolakan, melainkan sebuah proses pendidikan rohani. Yesus mengajak Maria melihat karya Allah dari perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, karya komunikasi Gereja baru bermakna jika orang di balik layar mau menyerahkan dirinya untuk dibimbing oleh iman. Ia mengingatkan para peserta agar tidak terjebak pada penguasaan teknis semata. Keterampilan mengambil foto, membuat video, hingga mengelola media sosial hanyalah sarana pendukung.
“Tidak sedikit harus berhubungan dengan kamera, lensa, mikrofon, laptop, dan sebagainya. Namun, yang utama adalah bagaimana melalui karya itu warta dan kehadiran Yesus semakin nyata,” tegas Romo Agoeng.
Di tengah pesatnya perkembangan kreativitas manusia dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence), Romo Agoeng mengajak para pegiat Komsos memberi makna spiritual pada setiap pekerjaannya. Menjepret kamera hendaknya dimaknai sebagai doa, sedangkan tulisan dan video yang dihasilkan harus lahir sebagai bentuk kesaksian iman yang nyata.
***TJK
