Dari Kerusakan Lingkungan Hingga Perdagangan Orang: Komsos Regio Sumatera Soroti Luka Ekologi dan Kemanusiaan

Foto: Komsos KAPal

PEMATANGSIANTAR — Gereja Katolik diajak untuk tidak menutup mata terhadap krisis ekologi dan kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang kian marak. Seruan ini mengemuka dalam Temu Komsos dan Signis Regio Sumatera yang digelar di Catholic Center-Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan (CC-PPU KAM), Pematangsiantar, Rabu (23/9/2026) siang.

Dua narasumber, yakni Ketua Tim Kerja JIPC Ordo Kapusin, Romo Walden Sitanggang OFMCap dan Ketua Divisi Forum Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Agung Medan, Romo Freddy Parera SVD, menegaskan bahwa merawat bumi dan memperjuangkan martabat manusia merupakan panggilan moral serta iman yang mutlak.

Dalam sesi bertajuk ekologi integral, Romo Walden Sitanggang OFMCap mengingatkan pentingnya menjaga alam sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar aksi seremonial, melainkan kewajiban iman.

“Kerusakan lingkungan dimulai dari kerusakan iman. Menanam pohon itu mudah, tetapi menanamkan nilai tidaklah sederhana,” ujar Romo Walden mengutip pesan Paus Fransiskus. Ia menekankan agar gerakan ekologi Gereja tetap murni serta benar-benar menanamkan nilai hidup yang merawat ciptaan.

Sementara itu, Romo Freddy Parera SVD menyoroti ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang banyak menargetkan warga di wilayah rawan, termasuk di area Keuskupan Agung Medan. Modus operandi kejahatan ini kian beragam, mulai dari tawaran kerja bergaji tinggi, iming-iming pekerjaan restoran, hingga penyalahgunaan visa.

Foto: Komsos KAPal

Romo Freddy menegaskan bahwa Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) memiliki peran strategis sebagai mitra pencegahan dan edukasi. “Komsos bukan sekadar media pewartaan, melainkan media kemanusiaan yang bertugas memanusiakan manusia dan menjunjung martabat mereka,” tegasnya.

Ia menilai edukasi dan sosialisasi pencegahan TPPO lewat media sosial jauh lebih efektif dalam menjangkau masyarakat luas dibandingkan cara-cara konvensional.

Diskusi semakin hangat saat peserta menautkan keterkaitan antara krisis lingkungan dan maraknya TPPO. Bencana dan kerusakan alam yang merusak mata pencaharian warga dinilai berujung pada kemiskinan, yang pada akhirnya membuat masyarakat makin rentan terjerat berbagai modus tindak perdagangan orang.

Melalui pertemuan ini, para pegiat media komunikasi sosial diharapkan dapat berjalan bersama dalam mengedukasi masyarakat. Dengan semangat “Bersama Kita Bisa, Bersama Kita Kuat”, menjaga bumi dan melindungi martabat sesama menjadi aksi nyata yang harus diwujudkan saat ini juga.

***Lisbet Theresa Pakpahan (Laporan dari Pematangsiantar)

Leave a Reply

Your email address will not be published.