Renungan Harian 28 September 2026

PF St. Wenseslaus, St. Laurensius Ruiz, dkk

Ayb 1:6-22; Mzm 17:1.2-3.6-7; Luk 9:46-50. BcO Ydt 5:1-21

Kesediaan Memberi Diri

Saudara-saudara terkasih, mengikuti Yesus tidak serta-merta membuat para murid bebas dari ambisi pribadi dan keinginan untuk diakui. Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana mereka memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka, bahkan berusaha membatasi orang lain yang berkarya dalam nama Yesus. Peristiwa ini menjadi cermin bagi kita bahwa dalam menjalani panggilan hidup, manusia memang senantiasa berhadapan dengan ego, kecenderungan untuk membandingkan diri, dan hasrat untuk merasa lebih penting dari yang lain.

Pergumulan ini sangat nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanpa disadari, kita sering membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan orang lain: siapa yang lebih berhasil, lebih dipercaya, atau lebih cepat mencapai tujuan. Dari sini muncul keraguan: Apakah saya berada di jalan yang benar? Mengapa perjalanan saya terasa lebih berat? Namun, Yesus menunjukkan bahwa panggilan bukan tentang siapa yang paling besar atau paling unggul, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu menerima keterbatasannya dan memberikan diri.

Perjuangan dalam panggilan juga menuntut keberanian untuk menerima bahwa perjalanan setiap orang berbeda. Tidak semua orang dipanggil melalui jalan yang sama, tidak semua proses berjalan dengan kecepatan yang sama, dan tidak semua jawaban datang pada waktu yang kita inginkan. Membandingkan perjalanan hanya membuat kita kehilangan kesempatan untuk memahami proses yang sedang berlangsung dalam diri kita.

Saudara-saudari, dalam perjalanan itu ada saat ketika kita merasa yakin, tetapi ada pula saat ketika semuanya terasa samar. Ada keputusan yang harus diambil tanpa kepastian penuh, ada pengorbanan yang tidak langsung terlihat hasilnya, dan ada pertanyaan yang mungkin belum menemukan jawaban. Justru di tengah ketidakpastian itulah seseorang belajar bahwa panggilan bukan hanya tentang mengetahui ke mana harus pergi, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus berjalan meskipun belum memahami seluruh persimpangan di depan.

Pada akhirnya, menjalani panggilan adalah proses terus-menerus untuk memurnikan motivasi hati. Kelelahan, keraguan, dan rasa gagal yang kita alami bukanlah tanda kekalahan, melainkan sarana untuk lebih memahami diri dan kehendak-Nya. Mari kita berhenti bertanya, “Seberapa besar dan sukses aku dibanding orang lain?”, dan mulailah merenungkan, “Untuk apa hidup ini kujalani, dan kepada siapa aku mempersembahkan diri?” Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr Antonius Bintang Christian Tingkat II

Leave a Reply

Your email address will not be published.