Para Suster Borromean di Yerusalem Menabur Benih-benih Perdamaian

Sr. Daniela Gabor SMCB: “Anak-anak taman kanak-kanak kami menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi, meskipun mereka belum sepenuhnya memahaminya. Sebagian mungkin mengajukan pertanyaan atau mengungkapkan perasaan mereka, dan kami menanggapinya dengan tenang agar mereka merasa aman.” Foto: Arsip SMCB.

Sejak 1989, para Suster Belas Kasih Santo Charles Borromeus di Yerusalem mengelola sebuah taman kanak-kanak tempat anak-anak dari keluarga Muslim dan Kristen belajar serta bermain bersama. Teladan mereka menjadi bukti bahwa menjadi “pembawa damai” tetap mungkin dilakukan bahkan di pusat konflik.

Merawat anak-anak dan kaum muda telah menjadi bagian penting dari pelayanan para suster sejak awal misi mereka di Yerusalem. Selama hampir 40 tahun, para suster telah merawat 140 anak Palestina berusia 3 hingga 6 tahun. Sebagian besar berasal dari Yerusalem Timur dan Kota Tua serta beragama Islam.

Sekitar seperlima dari anak-anak tersebut adalah umat Kristiani dari berbagai denominasi. Program pendidikan taman kanak-kanak itu mencakup berbagai unsur yang memperkenalkan anak-anak kepada budaya dari berbagai kebangsaan dan agama.

Para suster berupaya membesarkan anak-anak dalam semangat menghormati bukan hanya tradisi mereka sendiri, tetapi juga tradisi para tetangga mereka. Pada bulan Desember, anak-anak senang belajar menyanyikan lagu-lagu Natal dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman. Sementara selama Ramadan, mereka menikmati kegiatan membuat lentera.

Permusuhan yang meletus di Timur Tengah pada 2023 memberikan pukulan terhadap perdamaian yang rapuh ini, karena perang meninggalkan luka terutama pada anak-anak.

Dalam lingkungan yang penuh tantangan ini, para suster menyediakan ruang yang aman dan penuh perhatian, tempat anak-anak dapat memulihkan diri, belajar, dan sekadar menjadi anak-anak. Mereka memberikan kasih sayang, stabilitas, kegiatan kreatif, serta dukungan emosional yang membantu memulihkan kegembiraan, memperkuat ketangguhan, dan menumbuhkan harapan akan masa depan yang damai.

Pada usia 5 atau 6 tahun, anak-anak mulai membentuk jalur-jalur saraf dasar yang bertanggung jawab atas gambaran mengenai “orang lain”. Jika pada usia ini seorang anak melihat seorang Muslim atau Kristen bukan sebagai musuh yang dilihatnya di televisi, melainkan sebagai tetangga di taman bermain yang berbagi mainan dengannya, akan jauh lebih sulit bagi kebencian untuk menyusup ke dalam hatinya.

Taman kanak-kanak para Suster mempekerjakan staf dan relawan dari berbagai kebangsaan dan agama. Foto: Arsip SMCB.

Ketakutan dan Kegembiraan

“Ketika sekolah dan taman kanak-kanak di Israel diizinkan dibuka kembali dua minggu setelah konflik bersenjata dimulai,” kata Sr. Gabriela Zinkl SMCB, “kami juga membukanya kembali, meskipun dengan perasaan campur aduk: takut dan gembira.”

“Takut, karena kami tidak dapat memprediksi bagaimana para tetangga Israel kami akan bereaksi terhadap anak-anak dari keluarga Arab. Gembira, karena segera setelah pembukaan kembali diumumkan, para orang tua memberikan tanggapan positif, dan anak-anak berdatangan sejak hari pertama. Bagi banyak orang, keputusan kami menjadi tanda penting kembalinya kehidupan normal. Ada seseorang yang menerima mereka dan tidak menghakimi mereka.”

Para suster terpaksa memberhentikan para penjaga keamanan Arab yang sebelumnya bekerja di sana karena mereka tidak yakin apakah hal tersebut akan dipandang sebagai provokasi oleh para tetangga Yahudi mereka.

Sebagai gantinya, para suster bergiliran berjaga di pintu masuk taman kanak-kanak, mengenakan pakaian religius mereka dan tanpa membawa senjata. “Bertentangan dengan kekhawatiran kami,” lanjut Sr. Gabriela, “tanggapannya luar biasa. Para tetangga Israel kami bangga kepada kami dan terharu hingga meneteskan air mata karena akhirnya dapat kembali mendengar anak-anak bernyanyi dan tertawa.”

Pembelajaran mengenai tradisi budaya menjadi dasar program pendidikan yang mengajarkan saling memahami dan menghormati.
Foto: Arsip SMCB.

“Senang Sekali Bisa Kembali ke Taman Kanak-Kanak! Tahukah Kamu, di Rumah Kami sedang ada Perang!”

Di taman kanak-kanak tersebut, para suster berusaha mempertahankan rutinitas harian seperti biasa, sekaligus terus menjalankan dialog antarbudaya dan antaragama di antara mereka yang berada dalam pendampingan mereka.

“7 Oktober 2023 merupakan kejutan yang sangat mengerikan,” kata Sr. Daniela Gabor SMCB, Pemimpin Komunitas para Suster di Yerusalem.

“Dalam sekejap, kepercayaan dan rasa aman yang sebelumnya ada hancur berkeping-keping. Karena itu, terasa semakin penting untuk menciptakan oasis-oasis kepercayaan, tempat seseorang dapat menemukan perlindungan di tengah gejolak universal ini.”

Betapa pentingnya taman kanak-kanak ini sebagai sebuah “oasis perdamaian” bagi anak-anak Yerusalem terlihat dari perkataan seorang anak laki-laki: “Saya sangat senang bisa kembali ke taman kanak-kanak! Tahukah kamu, di rumah kami sedang ada perang!”

Para Suster Borromean hidup di Yerusalem sebagai sebuah komunitas internasional. Di antara mereka terdapat para suster asal Jerman, Rumania, dan Arab. Kehadiran mereka sendiri di tanah ini menjadi sebuah kesaksian yang kuat.

“Bagi kami, hidup bersama tanpa mempermasalahkan latar belakang masing-masing adalah sesuatu yang alami,” kata Sr. Daniela. “Kami semua dipersatukan oleh dasar yang sama—nilai-nilai Kristiani. Keberagaman budaya memperkaya kami. Dengan memberikan teladan melalui kehidupan sehari-hari yang dipenuhi persahabatan dan rasa hormat, kami berharap dapat menginspirasi orang-orang yang berinteraksi dengan kami untuk menyadari bahwa hidup berdampingan secara damai dimungkinkan di mana pun orang-orang dari berbagai kebangsaan bertemu dan hidup bersama.”

*** Sr. Elena Isachenko SMCB

Vatican News

Leave a Reply

Your email address will not be published.