Tutup Rakor dan Workshop Pastoral KAPal, Romo Yohanes Kristianto Tegaskan Kunci Pembaruan Gereja Berbasis Data

Foto: Komsos KAPal

BANYUASIN — Rangkaian Rapat Koordinasi (Rakor) dan Workshop Pastoral Keuskupan Agung Palembang (KAPal) Kegiatan yang berlangsung selama empat hari (6–9 Oktober 2026) ini mengusung tema “Menata Pastoral: Berbasis Data dan Berbuah Nyata” dan diikuti oleh 154 peserta yang terdiri dari para imam serta tenaga kesekretariatan paroki se-KAPal resmi ditutup melalui Perayaan Ekaristi di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Kamis (8/10/2026) malam. Perayaan ini dipimpin langsung oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) KAPal, Romo Yohanes Kristianto, didampingi Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, serta Romo Stepanus Gitowiratmo sebagai konselebran.

Foto: Komsos KAPal

Dalam homilinya, Romo Yohanes Kristianto menekankan bahwa perjalanan Gereja Keuskupan Agung Palembang adalah sebuah ziarah yang patut disyukuri karena terus bertumbuh dari waktu ke waktu berkat keterlibatan aktif para imam, religius, hingga kaum awam. Meski demikian, ia mengingatkan seluruh peserta agar tidak berhenti pada ungkapan syukur atau sekadar bernostalgia dengan masa lalu, melainkan terus bergerak menjadi Gereja yang visioner.

“Kita tidak diajak berhenti pada ungkapan syukur, tetapi kita diajak juga untuk melihat ke depan, menjadi Gereja yang visioner. Metode secanggih apa pun yang kita pelajari, kalau mindset kita tidak berubah, maka tidak akan ada pertumbuhan dan perkembangan,” tegas Romo Kristianto.

Lebih lanjut, Romo Kristianto menguraikan tiga pilar penting yang saling berkaitan untuk mewujudkan pembaruan pastoral di Keuskupan Agung Palembang. Pembaruan tersebut diawali dari perubahan mindset dan model kepemimpinan pastoral yang tidak lagi boleh bergantung pada karisma atau selera pribadi pimpinan, melainkan harus bertransformasi menuju tatanan kelembagaan yang sistematis, efektif, efisien, dan profesional.

Foto: Komsos KAPal

Perubahan cara pandang ini menurutnya harus ditindaklanjuti dengan penguatan tim kerja dan kolaborasi di tingkat paroki. Ia menegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi pastor paroki yang bekerja sendiri tanpa mitra. Komunitas pastoral harus hidup sebagai wadah inspiratif melalui dialog yang erat antara para imam dan sekretaris paroki, sebab solidaritas dan kekompakan tim pastoral sangat cepat dirasakan oleh umat.

Foto: Komsos KAPal

Pilar terakhir yang tidak kalah penting adalah pembenahan tata kelola kelembagaan secara menyeluruh, mulai dari tingkat keuskupan hingga paroki, guna mendukung penyusunan program kerja yang terukur menyongsong periode 2027.

Mengakhiri khotbahnya, Romo Kristianto mengutip pesan Injil agar seluruh pelayan pastoral memiliki inisiatif, kreativitas, dan inovasi yang disesuaikan dengan konteks wilayah tugas masing-masing.

“Perubahan ini terjadi secara bertahap dan perlahan. Sesuai ajaran Injil untuk meminta, mencari, dan mengetuk, kita diajak memiliki inisiatif dan kreativitas. Semoga seluruh rangkaian rakor ini membawa sukacita serta berbuah nyata bagi paroki dan Keuskupan Agung Palembang,” pungkasnya.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.