
Pada hari kelima pertemuan Amoris laetitia, teolog Julie Hanlon Rubio menyerukan penguatan kembali “pandangan tentang perkawinan sebagai kemitraan intim yang berorientasi pada cinta dan keadilan”. Sementara itu, Kardinal Pablo Virgilio Siongco David dari Filipina mengatakan bahwa Gereja perlu bertanya, “Sejauh mana Gereja bersedia mendekat kepada keluarga-keluarga dalam pergumulan nyata yang mereka hadapi?”
“Ketika berhadapan dengan kerentanan yang dialami keluarga-keluarga, Amoris Laetitia mengajak kita untuk mengutamakan sikap mendengarkan, menghindari penilaian yang terlalu cepat, dan membuka diri terhadap kejutan dari karya rahmat Allah dalam kehidupan mereka,” kata Kardinal Kevin Farrell pada Senin, saat menjelaskan tema hari keempat pertemuan di Vatikan yang didedikasikan untuk mengenang sepuluh tahun penerbitan Anjuran Apostolik Amoris Laetitia.
Prefek Dikasteri untuk Kaum Awam, Keluarga, dan Kehidupan itu membuka hari kelima pertemuan di Vatikan yang didedikasikan untuk Anjuran Apostolik Amoris Laetitia, sepuluh tahun setelah dokumen tersebut diterbitkan.
Profesor Julie Hanlon Rubio, pengajar Etika Sosial Kristiani di Sekolah Teologi Yesuit, Universitas Santa Clara, Berkeley, menegaskan dalam pemaparannya bahwa “Gereja dapat menawarkan pandangan yang menantang tentang perkawinan sebagai kemitraan intim yang berorientasi pada cinta dan keadilan, tanpa menuntut kesempurnaan”.
Kardinal Pablo Virgilio Siongco David, Uskup Kalookan di Filipina, membagikan kisah pengalaman pastoral penting yang selama bertahun-tahun membantunya menghindari pemberian stigma secara sederhana terhadap keluarga. Pengalaman tersebut juga membantunya melihat bagaimana Injil justru dapat hadir di tengah berbagai kerentanan yang dialami keluarga.
Tren Global Menjauh dari Perkawinan
Refleksi teologis diawali dengan pemaparan data mengenai pilihan masyarakat untuk menikah saat ini, dibandingkan dengan angka-angka dari beberapa dekade sebelumnya.
Menurut Rubio, dunia sedang menyaksikan percepatan yang jelas dalam tren global menjauh dari perkawinan. Fenomena ini terjadi di berbagai negara, mulai dari Filipina hingga Polandia, Argentina hingga Afrika Selatan, serta Amerika Serikat hingga Jepang.
Persentase orang dewasa yang belum pernah menikah, jelas Rubio, diperkirakan akan terus meningkat. Secara khusus, jumlah umat Katolik di Amerika Serikat yang menikah saat ini lebih sedikit dibandingkan lima puluh tahun lalu. Dari kelompok tersebut, hanya sekitar seperempat yang melangsungkan perkawinan di Gereja.
Angka kelahiran juga menurun di berbagai negara, termasuk Kenya, Ukraina, dan India. Angka baptisan turut mengalami penurunan dan kini berada pada kisaran sepertiga dari tingkat yang tercatat pada 1990-an.
Menurut profesor asal Amerika Serikat itu, persoalannya adalah bahwa “perkawinan saat ini lebih didasarkan pada hubungan timbal balik dan lebih memuaskan, tetapi juga menuntut lebih banyak, kurang menghasilkan keturunan, dan lebih rapuh”.
Ketika cinta menjadi unsur yang sangat penting dalam perkawinan, jelasnya, menemukan pasangan yang tepat menjadi semakin sulit.
Sebagian perempuan memilih untuk tidak menempuh jalan perkawinan karena merasa khawatir melihat kenyataan kehidupan rumah tangga yang kerap diwarnai perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Kondisi tersebut menimbulkan keraguan mendalam, yang sering kali berakar pada perasaan belum siap menjadi orang tua. Akibatnya, banyak orang menunda memiliki anak hingga akhirnya menyadari bahwa kesempatan yang tepat untuk membangun keluarga telah berlalu.
Gereja Menanggapi dengan Menawarkan “Pandangan yang Kuat”
Rubio menyoroti persoalan penting yang dihadapi masyarakat saat ini. “Pasangan-pasangan Katolik, khususnya, cenderung menghadapi pergumulan mereka dalam keterasingan,” katanya. Situasi ini juga terlihat dari tingginya angka perceraian di kalangan pasangan yang lebih tua.
Karena itu, menurut Rubio, ada kebutuhan mendesak untuk mendorong pasangan agar “mengarahkan pandangan ke luar diri mereka”, sesuatu yang semakin jarang dilakukan saat ini.
Dalam hal ini, teologi Katolik menawarkan pemahaman penting tentang persatuan intim yang berkomitmen pada sesuatu yang lebih besar daripada diri pasangan itu sendiri.
“Pada saat ini, dunia membutuhkan Gereja untuk menanggapi kerapuhan perkawinan dengan pandangannya yang kuat dan meyakinkan,” ujar Rubio.
Ia mengingatkan bahwa Paus Fransiskus sendiri pernah mengatakan bahwa “kenyataan bahwa cinta itu tidak sempurna tidak berarti cinta itu palsu atau tidak nyata”.
Dokumen Magnifica Humanitas juga menegaskan hal tersebut: kerapuhan manusia bukanlah masalah yang harus disingkirkan, melainkan bagian mendasar dari kemanusiaan yang perlu diterima dan diintegrasikan dalam kehidupan.
Mendengarkan Kisah Nyata dan Pergumulan yang Sesungguhnya
Kardinal Pablo Virgilio Siongco David dari Filipina memaparkan berbagai situasi yang mencerminkan kenyataan hidup di Keuskupan Kalookan yang dipimpinnya.
Dalam pemaparan yang menyentuh, ia memberikan contoh konkret tentang bagaimana Amoris laetitia membantu menumbuhkan pemahaman mendasar: kita tidak boleh hanya bertanya “seberapa dekat keluarga-keluarga dengan gambaran keluarga ideal, tetapi juga seberapa jauh Gereja bersedia mendekati keluarga-keluarga dalam pergumulan nyata yang mereka hadapi”.
“Pendampingan bukan sekadar sesuatu yang dilakukan seorang imam atau petugas pastoral bagi sebuah keluarga. Pendampingan adalah sesuatu yang secara bertahap dipelajari oleh komunitas Kristiani untuk menjadi bagian dari kehidupan keluarga tersebut,” tegas Kardinal David.
Ia mencontohkan program “Stasiun Misi” di keuskupannya, sebuah metode evangelisasi yang diterapkan dalam situasi-situasi yang sangat menyakitkan. Dalam situasi tersebut, kehidupan keluarga dapat terganggu oleh kemiskinan, migrasi, kekerasan, kecanduan, pemenjaraan, ketidakadilan, dan pekerjaan yang tidak menentu.
Menurut Kardinal David, berbagai kenyataan tersebut “sangat membatasi kebebasan seseorang, bahkan kemampuan mereka untuk mendekati gambaran ideal kehidupan keluarga Kristiani”.
Melampaui Pengelompokan Berdasarkan Keluarga Ideal
“Itulah sebabnya Amoris Laetitia menjadi begitu penting bagi kami,” katanya. “Dokumen ini tidak meminta kita untuk meninggalkan cita-cita ideal. Sebaliknya, dokumen ini mengajak kita mendampingi orang-orang nyata yang sering kali harus menghadapi jarak yang menyakitkan antara cita-cita tersebut dan keadaan hidup mereka yang sesungguhnya.
“Dokumen ini memberi kita bahasa untuk mengungkapkan apa yang telah kita pelajari dalam pelayanan pastoral: memahami situasi konkret, alih-alih memulai dengan pengelompokan; mendampingi pertumbuhan secara bertahap; serta percaya bahwa rahmat Allah sudah dapat bekerja, bahkan dalam kehidupan dan relasi yang ditandai oleh kelemahan dan ketidaksempurnaan.”
Singkatnya, pengalaman tersebut menjadi sebuah “pelajaran pastoral” yang nyata, terutama di kawasan metropolitan Manila yang termasuk dalam wilayah keuskupan tersebut. Di sana, kemiskinan keluarga dapat menimbulkan keterasingan yang mendalam, sementara situasi semakin diperburuk oleh maraknya narkoba dan kecanduan.
Dengan mendengarkan pengalaman-pengalaman yang sangat berat, Gereja belajar bahwa “keluarga yang pada awalnya tampak tidak bertanggung jawab atau tidak berfungsi dengan baik dapat terlihat sangat berbeda ketika kita masuk ke rumah mereka dan mendengarkan kisah hidup mereka”.
***Antonella Palermo
Dari Vatican News, 12 Oktober 2026
