
menerima Medali Keberlanjutan Paus Leo XIV dari Universitas Villanova.
Kardinal Michael Czerny, Prefek Emeritus Dikasteri untuk Pembangunan Manusia Integral, menerima Medali Keberlanjutan Paus Leo XIV dari Universitas Villanova di Desa Laudato Si’, kawasan Vila Kepausan Castel Gandolfo. Ia menyerukan agar umat manusia segera mengambil langkah nyata untuk melindungi lingkungan.
“Syukur kepada Allah, kepada Anda semua yang hadir di sini, kepada orang tua saya yang kecintaannya terhadap alam dan komitmennya terhadap daur ulang telah membekas dalam diri saya, serta kepada semua orang yang mendengarkan jeritan kaum miskin dan Bumi.”
Demikian ungkapan terima kasih Kardinal Michael Czerny, Prefek Emeritus Dikasteri untuk Pembangunan Manusia Integral, setelah menerima “Medali Keberlanjutan Paus Leo XIV” yang dianugerahkan oleh Universitas Villanova pada malam 13 Oktober. Upacara penghargaan tersebut berlangsung di Desa Laudato Si’, kawasan Vila Kepausan Castel Gandolfo.
Universitas yang berbasis di Pennsylvania, Amerika Serikat, tersebut merupakan tempat Robert Francis Prevost, yang kelak menjadi Paus Leo XIV, meraih gelar matematika pada 1977.
Jeritan Kaum Miskin dan Bumi
Medali Keberlanjutan Paus Leo XIV merupakan penghargaan internasional yang didirikan Universitas Villanova pada 2026. Penghargaan ini diberikan kepada individu yang menunjukkan kepemimpinan dalam tanggung jawab terhadap lingkungan, keadilan sosial, kepedulian terhadap kelompok paling rentan, serta pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Upacara penganugerahan berlangsung sebagai bagian dari Konferensi Internasional Keberlanjutan Universitas Villanova 2026, yang mengusung tema “Menanggapi Jeritan Bumi dan Kaum Miskin”.
Konferensi tersebut diselenggarakan di Roma pada 12–15 Oktober dan mempertemukan lebih dari 300 akademisi, peneliti, perwakilan Gereja, serta pemimpin dari sektor publik dan swasta. Kegiatan ini didukung oleh Pusat Pendidikan Tinggi Laudato Si’ dan Dikasteri untuk Pembangunan Manusia Integral.
Keterangan Foto: Kardinal Michael Czerny, Prefek Emeritus Dikasteri untuk Pembangunan Manusia Integral, menerima Medali Keberlanjutan Paus Leo XIV dari Universitas Villanova.
Teladan Nuh: Benteng Melawan Kehancuran
Dalam pidato penerimaan penghargaan, Kardinal Czerny menjelaskan bahwa ada dua sosok yang menjadi teladan baginya dalam memahami ekologi integral. Ia dipilih sebagai penerima pertama penghargaan tersebut sebagai pengakuan atas komitmennya selama lebih dari 50 tahun terhadap martabat manusia, keadilan sosial, para migran, dan kepedulian terhadap ciptaan.
Sosok pertama adalah Nuh, bapa bangsa dalam Perjanjian Lama, yang digambarkan sebagai orang benar yang menaati Allah dan membangun bahtera untuk menyelamatkan keluarganya serta hewan-hewan dari air bah besar, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Kejadian.
“Berkat dirinya, kehancuran tidak menjadi akhir dari segalanya. Umat manusia dan Bumi memperoleh kesempatan untuk bernapas kembali: sebuah kesempatan luar biasa untuk memulai lagi, yang dilambangkan oleh burung merpati dengan ‘daun zaitun segar di paruhnya’ dan, untuk sepanjang masa, oleh pelangi,” kata Kardinal Czerny.
Ia melanjutkan bahwa manusia saat ini juga menghadapi situasi yang menguji ketekunan dan iman, sebagaimana yang dialami Nuh.
“Menurut saya, inilah inti tantangan keberlanjutan pada masa kini: sebuah kesempatan untuk melindungi dan menyelamatkan umat manusia dari kehancuran diri akibat ulahnya sendiri terhadap lingkungan, sebelum semuanya terlambat,” tambahnya.
Manusia yang Kehilangan Akar
Teladan besar kedua bagi penerima Medali Keberlanjutan Paus Leo XIV itu adalah tokoh Pangeran Kecil dalam karya Antoine de Saint-Exupéry. Tokoh tersebut digambarkan sebagai pengungsi dari sebuah planet kecil dan jauh, tempat terdapat taman dengan bunga mawar yang indah, tetapi juga seekor domba yang mengancam akan memakannya.
Kardinal Czerny merangkum bagian dari novel terkenal karya penulis Prancis itu. Dalam kisah tersebut, bunga mawar berbicara tentang manusia: “Kita tidak pernah tahu di mana menemukan mereka. Angin menerbangkan mereka. Mereka tidak memiliki akar, dan itulah yang membuat hidup mereka sangat sulit.”
Menurutnya, Nuh dan Pangeran Kecil menghadirkan dua dimensi ketidakberlanjutan yang hingga kini terus mengancam dunia.
“Ketidaktaatan terhadap hukum pada zaman Nuh dan perasaan kehilangan akar yang kronis juga terjadi pada masa kini. Marilah kita mendengarkan gambaran puitis yang menggugah ini, yang mengungkap bencana akibat pola hidup yang tidak berkelanjutan. Gambaran-gambaran tersebut mendorong kita menuju pertobatan yang mendalam dan terus-menerus, satu-satunya solusi sejati: meninggalkan berbagai kebiasaan buruk dan menempuh jalan baru melalui perubahan perilaku pribadi, komunitas, dan masyarakat yang tak terhitung banyaknya,” tutup sang Kardinal.
Kita Saling Membutuhkan
Setelah jeda musik yang dibawakan kuartet Orkestra Roma Tre dengan memainkan dua karya Divertimenti Wolfgang Amadeus Mozart, Kardinal Fabio Baggio, Pro-Prefek Dikasteri untuk Pembangunan Manusia Integral, menyampaikan sambutan pembuka.
Ia mengingatkan bahwa Paus telah menjalani operasi pada sore hari itu sehingga tidak dapat menyerahkan sendiri penghargaan yang menyandang namanya kepada Kardinal Czerny.
“Kami berharap dapat merayakan kesempatan ini bersama Bapa Suci, Paus Leo XIV,” kata Kardinal Baggio.
“Meskipun operasi membuat beliau tidak dapat bersama kita hari ini, kita tetap dekat dengannya melalui kasih sayang dan doa. Kita memohon agar Tuhan menganugerahkan kekuatan, kedamaian, dan pemulihan yang sempurna kepadanya. Ketidakhadirannya mengingatkan kita pada sebuah kebenaran sederhana tetapi mendalam: kita saling membutuhkan. Kita dipanggil untuk saling mendampingi, terutama pada saat-saat rentan.”
“Segala Sesuatu Saling Terhubung”
Menanggapi pertanyaan tentang tanggung jawab manusia terhadap sesama dan Allah, Kardinal Baggio mengatakan, “Iman Kristiani mengajarkan bahwa ciptaan merupakan anugerah yang dipercayakan kepada kita untuk dirawat, bukan sumber daya yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Iman kita juga mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki martabat yang tidak dapat diukur berdasarkan kekayaan, kekuasaan, atau produktivitas.”
Keyakinan bahwa “segala sesuatu saling terhubung”, lanjutnya, merupakan inti ekologi integral yang diungkapkan dengan sangat kuat oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato si’, yang diterbitkan pada 2015.
Karena itu, ia menambahkan, “kepedulian terhadap ciptaan tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap manusia. Kita tidak dapat melindungi Bumi sambil mengabaikan kaum miskin.”
Ia menutup sambutannya dengan mendorong para peserta untuk mencari cara-cara baru yang semakin efektif dalam merawat ciptaan dan melindungi kelompok paling rentan.
“Kita harus menciptakan model ekologi integral yang nyata di dalam komunitas, lembaga, sekolah, tempat kerja, dan pilihan-pilihan ekonomi kita—model yang memungkinkan tanggung jawab lingkungan, perkembangan manusia yang utuh, dan kesejahteraan bersama saling memperkuat,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak semua yang hadir untuk mengheningkan cipta selama satu menit dan berdoa bagi kesehatan Paus Leo XIV.
Memulihkan Rumah Bersama
Setelah menyampaikan pengakuan atas ketidakhadiran Paus dan meneruskan ungkapan simpati seluruh komunitas Universitas Villanova kepada beliau, Rektor Universitas Villanova, Imam Agustinian Peter M. Donohue, OSA, mengungkapkan harapan agar penghargaan tersebut dapat menjadi sumber harapan bagi dunia.
“Semoga medali ini menjadi mercusuar harapan bagi seluruh dunia dari generasi ke generasi, mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan tanpa kasih tidak dapat melihat dengan jernih, sementara kasih tanpa keberanian dan tindakan tetap tidak lengkap.”
“Ketika kebenaran, kesatuan, dan kasih bekerja bersama, ketiganya menjadi kekuatan dahsyat untuk memulihkan rumah bersama kita dan memajukan martabat setiap manusia,” tutupnya.
Imam John Abubakar, OSA, direktur senior Universitas Villanova yang bertanggung jawab atas strategi dan kebijakan keberlanjutan lingkungan, mengenang berbagai tonggak penting dalam kehidupan Kardinal Czerny serta menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pimpinan Pusat Pendidikan Tinggi Laudato Si’, yang menyambut kami dengan begitu hangat dan benar-benar membuat kami merasa bahwa tempat ini adalah rumah bersama kita, serta kepada semua orang yang mendampingi dan bekerja dengan penuh kemurahan hati sehingga hari ini dapat terlaksana,” tutupnya.
***Daniele Piccini – Castel Gandolfo
Dari Vatican News, 14 Oktober 2026
