Renungan Harian Senin, 26 Oktober 2026

Ef. 4:32.5:8; Mzm. 1:1-2.3.4.6; Luk. 13:10-17; BcO Keb 1:16-2:24.

Menjadi Anak Terang

Saudara-saudari Sahabat yang terkasih, dalam Injil hari ini Yesus sedang mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat. Di sana ada seorang perempuan yang sudah delapan belas tahun menderita sakit hingga tubuhnya membungkuk. Ia tidak mampu berdiri tegak. Mungkin orang-orang sudah terbiasa melihatnya seperti itu. Namun Yesus tidak mengabaikannya. Ia melihat perempuan itu, memanggilnya, lalu menyembuhkannya. Perempuan itu pun berdiri tegak dan memuliakan Allah.

Yesus melihat orang yang mungkin tidak lagi diperhatikan orang lain. Ia tidak hanya melihat penyakitnya, tetapi juga martabatnya. Yesus menyebutnya sebagai seorang seorang manusia yang dikasihi Allah dan pantas dibebaskan dari penderitaan. Bagi Yesus, belas kasih kepada sesama lebih penting daripada memakai aturan sebagai alasan untuk tidak menolong.

Pemimpin rumah ibadat justru marah karena Yesus menyembuhkan pada hari Sabat. Ia lebih sibuk mempermasalahkan waktu penyembuhan daripada bersukacita karena seseorang telah dibebaskan dari penderitaan. Sikap ini menjadi peringatan bagi kita. Kadang-kadang kita juga bisa terlalu cepat menilai atau berpegang pada kebiasaan, sampai lupa melihat orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Kita mungkin berkata, “Itu bukan urusan saya,” atau “Nanti saja,” padahal kita bisa memberikan perhatian sekarang.

Santo Paulus mengajak kita untuk bersikap ramah, berbelas kasih, dan saling mengampuni sebagaimana Allah telah mengampuni kita dalam Kristus. Ia juga mengingatkan bahwa kita sekarang adalah terang di dalam Tuhan dan dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang. Buah terang tampak dalam kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Hidup sebagai anak terang bukan berarti kita tidak pernah berbuat salah atau selalu tahu apa yang harus dilakukan. Artinya, kita terus berusaha memilih yang baik dan jujur, serta membiarkan kasih Tuhan menerangi sikap kita. Kita menjadi terang ketika menemani orang yang kesepian, menghibur orang yang sedang sedih, tidak ikut menyebarkan gosip, berani meminta maaf, dan mau mengampuni. Hal-hal kecil seperti itu dapat membantu orang lain merasa bahwa mereka tidak sendirian.

Saudara-saudari, perempuan yang disembuhkan itu berdiri tegak dan memuliakan Allah. Kesembuhannya bukan hanya perubahan pada tubuhnya, melainkan ia juga memperoleh kembali kebebasan dan harapan. Kita mungkin tidak mampu menyembuhkan penyakit orang lain seperti Yesus, tetapi kita dapat membantu meringankan beban mereka melalui perhatian, kesabaran, doa, dan tindakan nyata. Kadang-kadang, mendengarkan seseorang dengan sungguh-sungguh sudah menjadi bentuk kasih yang berarti. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Romualdus Dwi Saputra

Tingkat III

Leave a Reply

Your email address will not be published.