Dalam pesan video yang dikirimkan kepada para peserta Pertemuan Internasional untuk Perdamaian di Asisi, Paus Leo XIV mengajak semua peserta untuk bersama-sama menjadi “sarana perdamaian Tuhan yang tidak bersenjata”. Ia menegaskan bahwa “perang tidak pernah dapat dilakukan atas nama Allah”.

untuk Perdamaian dalam Semangat Asisi.
“Perang tidak pernah dapat dilakukan atas nama Allah. Bagi kita yang beriman, ‘berperang atas nama agama berarti menyerang agama itu sendiri’. Tidak ada yang namanya perang suci; hanya perdamaianlah yang suci.”
Paus Leo XIV menyampaikan pengingat yang kuat tersebut dalam pesan video yang dikirimkannya pada Selasa kepada para peserta Pertemuan Internasional dalam Semangat Asisi, yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant’Egidio.
Pertemuan selama tiga hari yang berakhir pada hari itu berlangsung di kota perbukitan Asisi, wilayah Umbria, Italia, tempat Santo Fransiskus dilahirkan. Tema pertemuan tersebut adalah “Perdamaian yang Tidak Bersenjata dan Melucuti Senjata”.
Saya Sungguh Ingin Berada Bersama Anda
Paus mengawali pesannya dengan mengingatkan bahwa para peserta berkumpul di kota Santo Fransiskus, 40 tahun setelah Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang diselenggarakan pada 27 Oktober 1986 atas prakarsa Santo Yohanes Paulus II.
Setelah pertemuan bersejarah pertama tersebut, Paus Leo mengatakan bahwa pendahulunya menyerukan agar kita “terus menghidupi semangat Asisi”.
Paus menyampaikan salam kepada para penyelenggara, para patriark, pemimpin agama, serta para Fransiskan yang secara aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan doa dan dialog selama pertemuan tersebut.
“Saya sungguh ingin berada bersama Anda di makam Santo Fransiskus pada peringatan penting ini, melihat wajah Anda, dan bersama-sama memberikan kesaksian bahwa hidup sebagai saudara dan saudari sudah mungkin diwujudkan!” ungkapnya.
Perlunya Memupuk Semangat Asisi
Di tengah situasi saat ini yang ditandai oleh “budaya kekuasaan”, Paus Leo menegaskan bahwa semangat Asisi perlu terus dipupuk.
Semangat tersebut mencakup penolakan terhadap pembenaran perang atas nama agama, semangat mediasi dan dialog, serta refleksi kontemplatif yang disertai tindakan kreatif demi mewujudkan masa depan yang damai.
Dalam konteks ini, Bapa Suci menegaskan bahwa perdamaian harus kembali menjadi “cita-cita bersama semua bangsa, bintang penuntun bagi setiap pilihan kita, tolok ukur yang menyingkap ketidakadilan, serta cakrawala bersama bagi semua orang”.
“Kita harus membangun kembali perdamaian di mana-mana, bukan mempersiapkan lebih banyak perang,” tegasnya. Ia kembali mengingatkan bahwa nama Allah tidak boleh dimanipulasi untuk berusaha membenarkan perang.
Paus menjelaskan bahwa perjalanan yang dimulai di Asisi sebagai upaya bersama untuk mencari perdamaian pada dasarnya adalah “jalan doa”.
Doa Mungkin Tampak “lemah”, tetapi Merupakan Kekuatan yang Rendah Hati
“Doa mungkin tampak lemah ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia,” Paus Leo mengakui, “tetapi doa merupakan kekuatan yang rendah hati dari orang-orang beriman.”
Karena itu, ia mengajak semua orang untuk berpaling kepada Allah, Sang Pemberi Damai.
“Marilah kita berpaling kepada Allah, Sang Pemberi Damai, agar Ia menyentuh hati mereka yang menginginkan perang dan terorisme. Janganlah kita lupa bahwa doa tidak pernah sia-sia,” serunya.
Menekankan bahwa dunia membutuhkan dialog, Paus mengatakan bahwa jalan Asisi mengajak para pemimpin agama untuk membangun iklim dialog di antara umat beriman dan di tengah masyarakat.
Dengan demikian, bahasa kesombongan dapat digantikan oleh bahasa perdamaian, perundingan, dan saling pengertian, sehingga umat manusia secara bertahap dapat keluar dari lingkaran kekerasan.
Sebagai penutup, Paus Leo mengungkapkan harapannya agar doa-doa yang dipanjatkan dapat memperoleh dari Allah perdamaian yang dirindukan bagi bangsa-bangsa di dunia.
Ia berdoa agar Tuhan menjadikan kita “sarana perdamaian-Nya yang tidak bersenjata”.
***Deborah Castellano Lubov
Dari Vatican News, 27 Oktober 2026
