Keb. 6:12-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes. 4:13-18 (panjang) atau 1Tes. 4:13-14 (singkat); Mat. 25:1-13.
Lebih dari Sekedar Berjaga-Jaga

Saudara-saudari yang terkasih, saya teringat sebuah peribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Peribahasa ini jika kita coba hubungkan dalam bacaan hari ini justru sedikit lebih keras. Mengapa? Kita diajak dan ditantang apakah kita seperti gadis-gadis bijaksana yang berjaga-jaga? Ataukah kita seperti gadis-gadis bodoh yang ceroboh dan tidak berjaga?
Bacaan pertama dengan tegas mengatakan bahwa kebijaksaan itu bersinar, mudah dipandang dan tak dapat layu, berkeliling mencari orang yang patut baginya. Dengan kata lain, kebijaksanaan dimiliki oleh orang-orang yang selalu berjaga dan siap sedia mengikuti dan berjalan setiap hari bersama Tuhan. Kemudian, kita melangkah ke bacaan kedua, Paulus mengajak kita untuk berjalan setiap hari dalam pengharapan. Dalam artian apapun yang kita kerjakan hari ini hendaknya bukanlah pekerjaan yang sia-sia tetapi pekerjaan yang mempunyai makna dan pengharapan akan Tuhan. Dengan kata lain entah itu mengasuh anak, bekerja mencari nafkah ataupun belajar dan berlatih, kita usahakan membawa Tuhan dalam setiap pekerjaan kita.
Pada akhirnya kisah Injil hari ini memperlihatkan kita perbedaan antara pribadi bodoh dan bijaksana. Kesepuluh gadis itu semuanya berjaga-jaga, namun apa yang membuat mereka berbeda tidak lain adalah minyak. Minyak dalam perumpamaan ini melambangkan hubungan pribadi dengan Tuhan yang dipelihara setiap hari. Minyak itu adalah doa, pertobatan, ketaatan pada hal-hal kecil, dan relasi terhadap sesama yang kita bangun setiap hari.
Minyak tidak bisa dipinjam, tidak bisa instan, dan tidak bisa dikebut semalam. Dampaknya, apa yang keluar pada saat krisis, saat penyakit datang, saat pekerjaan hilang, saat seolah jalan menjadi buntu adalah apa yang telah kita isi selama bertahun-tahun. Harapan, relasi yang sehat serta kepercayaan dan kepasrahan teguh bahwa Tuhan akan menolong, bukan doa kilat yang kita panjatkan ketika pelita sudah mulai padam. Bukan teriakan pedih yang berkata, kok Tuhan nggak adil, kok Tuhan nggak peduli.
Saudara-saudari kesiapan yang sejati adalah kesiapan yang dibangun setiap hari. Menyisihkan waktu untuk berdoa bersama sebagai keluarga, membaca firman secara teratur, dan memelihara hati yang lembut di hadapan Tuhan, serta menjaga relasi setiap hari dengan masyarakat sekitar rumah, lingkungan dan paroki. itulah minyak yang harus kita isi hari demi hari. Sebagai penutup saya Teringat satu lagu Asmika, liriknya berkata “Jalan serta Yesus, jalan sertanya setiap hari, jalan serta Yesus, serta Yesus slamanya.” Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Hendra Paulinus Simbolon
Tingkat 5
