Persembahkan Semua Dosamu
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)
Doa
“Tuhan Yesus,
Aku ini milikMu, dan terus akan menjadi milikMu.
Engkau bukan saja sahabatku,
Tetapi juga penyembuh dan penyelamatku.
Sembuhkan dan selamatkanlah aku
Dari dosa dan kelemahanku! Amin.

Pengantar
Dosa adalah penolakan akan kasih Allah. Penolakan kasih Allah artinya tidak percaya akan Allah khusus akan kasih dan kuasaNya. Sikap inilah yang membuat manusia menderita. Ketulusan dan kepasrahan dalam mengaku dosa adalah penting untuk kesehatan jiwa. Inilah jalan kesucian dan penyembuhan.
Pengajaran
Setelah bertobat, seringkali jiwa masih melihat perbuatan jahatnya sampai menimbulkan rasa cemas, ragu dan kuatir tidak bisa mempertahankan pertobatannya itu. Mereka takut akan jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Perasaan ini bila dibiarkan akan menjadi peluang setan untuk menggoda seseorang takut mengubah hidupnya – takut bertobat. Padahal Pengkotbah berkata, “Baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang akan dihadapinya” ( 9:1). Pengajaran ini mengajak kita untuk mengandalkan kasih Allah, apalagi bagi mereka yang sudah sekian lama menjadi musuh Allah karena dosanya.
St Yohanes Krisostomus menasehati kita, “Kalau kalian ingin dicintai, hendaklah kalian mencintai!” Mari kita lihat sikap Yesus terhadap Maria Magdalena. Mengapa Yesus mengampuni Maria Magdalena sedemikian radikal dan Ia sangat mencintainya? Jawabnya, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih” (Luk 7:47). “Semakin banyak kesalahan yang kita lakukan, Allah semakin kita puji ketika kita memiliki kepercayaan yang total sempurna kepadaNya” kata St Claudia de la Colombere. Ketika kita yakin akan kasih Allah, kita semakin memuji Dia dan dengan itu rasa takut jatuh lagi ke dalam dosa yang sama dapat kita hindari!
Remisi atau penghapusan dosa dapat kita bandingkan dengan remisi yang diperoleh orang yang dipenjara. Semakin orang itu menunjukkan tingkah laku yang baik, semakin mungkin akan mendapatkan pengurangan masa penjara atau bahkan pembebasan dari tahanan. Yesus Tuhan kita terus menunggu pertobatan kita! Dia menunggu kita di pintu gerbang dengan tangan terbuka. Ya, Dia menunggu orang bertobat. Ketika ada orang bertobat, terjadilah ledakan sukacita sebagaimana disabdakanNya, “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7).
Kata Origines, “Hari di mana seseorang bertobat dan saat pengampunan adalah saat perayaan bagi Yesus Kristus, Tuhan kita!” Yesus sangat sedih dan prihatin melihat orang yang harus menanggung beban berat karena ia berdosa. Sebaliknya Ia bersukacita ketika pendosa itu membawa dosanya di bawah kaki Tuhan kita dan mohon pengampunan kepadaNya. Jika kita tidak memiliki dosa, Ia tidak akan menjadi Juruselmat. Dan itu berarti kita berdusta!
Pada suatu malam Natal. St Heronimus ingin memberi hadiah kepada kanak-kanak Yesus. Pertama, ia mempersembahkan kepadaNya, karya besarnya yaitu Terjemahan Kitab Suci, Vulgata, kemudian dia mempersembahkan usahanya mempertobatkan banyak jiwa, lalu keutamaan-keutamaan yang dia miliki, dan banyak lain lagi. Tetapi semua itu tidak berkenan pada Yesus. Tuhan Yesus berkata, “Heronimus, yang Aku inginkan menjadi persembahanmu kepadaKu adalah dosamu. Berikan semuanya itu kepadaKu dan Aku akan mengampunimu!”
Mempersembahkan dosa dan kesalahan sangat perlu kita lakukan! Kebiasaan ini harus kita lakukan dengan tulus dan sungguh hati untuk membersihkan dan menyembuhkan jiwa. Seiring dengan pertobatan itu lakukan perbuatan kasih, hidup lebih sederhana dan membangun sikap pasrah seperti seorang anak kepada orang dewasa. Ingat “pertobatan tulus dalam iman jauh lebih penting daripada perbuatan lainnya.”
St Thomas Aquinas mengingatkan kita, “Dalam pembersihan dosa-dosa kita tidak ada gradasi kualitas tindakan interior atau eksterior. Yang diutamakan adalah kekuatan dan kepenuhan kasih kita.” St Ignasius memberi nasehat begini, “Jika musuh menekan kita; menggoda atau menyeret kita untuk berdosa, kita harus mengangkat jiwa dalam iman dan berharap pada kuasa Allah. Kita mengandalkan kasihNya. Kita yakin bahwa Yesus dengan Hati yang terbuka sedang menunggu kita untuk diselamatkan”
Dengar peringatan orang kudus ini, “Semua kejahatan yang pernah kita lakukan tidak sebanding dengan kesalahan kita karena tidak percaya pada Allah” (St Claudius de la Colombiere). Betapa besarnya efek dosa masa lalu terhadap hidup kita! Tidak sedikit orang walaupun dosanya sudah diampuni masih saja meratap dan meragukan “benarkah Allah telah mengampuniku? Bisakah aku bertahan dalam kebaikan? Bagaimana jadinya kalau aku jatuh ke dalam dosa yang sama lagi?” Walaupun kecemasan itu pada mulanya tidak dalam, namun bila dibiarkan akan memperburuk hidupnya. Sebaliknya bila setelah bertobat menggemakan puji-pujian dan syukur, hidup rohani mereka akan tumbuh dan mereka akan dipenuhi oleh sukacita.
Ketika Maria Magdalena diampuni dosanya, hidupnya berubah secara total. Dia mengalami transformasi. Ia mempersembahkan dirinya kepada Allah. Ia mengabdi sesama dan tak kunjung henti melantunkan doa dan puasa. Doanya penuh dengan pujian dan syukur! Buah dari semua itu, Maria Magdalena tampil sebagai seorang pahlawan – seorang yang menang melawan setan dan godaannya. Terasa sekali dia haus membuat silih atas dosa-dosa masa lalunya. Ia menjadi saksi nyata dari pertobatan dan ketulusan kasihnya. Bisakah kita meniru dia? Kebaikan Allah yang tak terbatas seperti tangan yang terbuka lebar yang dapat merangkul semua orang yang mencari perlindungan kepadaNya. St Alphonsus de Liguori memberi menasihat yang inspiratif, “Ya Tuhanku, aku ini milikMu! Jika aku tidak diampuni, ingatlah bahwa aku tetap menjadi milikMu untuk selama-lamanya!”
Buchet Rohani
“Semua kejahatan yang pernah kita lakukan tidak sebanding dengan kesalahan kita karena tidak percaya pada Allah,” kata St. Claudius de la Colombiere. **
Yohanes Haryoto SCJ
Baca juga: Bacaan Liturgi Jumat, 12 Januari 2024

One thought on “30 Langkah Menuju Kesucian (33)”