Menghasilkan Buah-buah Kebaikan

“Jangan biarkan setiap orang yang datang kepadamu, pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajahmu, kebaikan dalam matamu, kebaikan dalam senyummu,” kata seorang bijaksana.

Seorang anak mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba ia tersandung akar pohon dan jatuh.

“Aduh!” teriak anak itu.

Jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Anak itu sangat terkejut, ketika mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”

Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei, siapa kamu?” Jawaban yang terdengar adalah “Hei, siapa kamu?”

Lantaran kesal mengetahui suaranya ditirukan, anak itu berseru, “Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut, ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.

“Apa yang terjadi?” tanyanya kepada sang ayah.

Buah Yang Baik – Foto: mashed.com

Dengan penuh kearifan, sang ayah berkata, “Anakku, coba perhatikan” lelaki itu berkata keras, “Saya kagum padamu!” Suara di kejauhan menjawab, “Saya kagum padamu!” Sekali lagi sang ayah berteriak “Kamu sang juara!” Dan suara itu kembali menjawab, “Kamu sang juara!”

Anak itu terheran-heran. Namun ia tetap tidak mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah GEMA, tetapi sesungguhnya itulah kehidupan. Kehidupan memberikan umpan balik atas semua ucapan dan tidakanmu, nak.”

“Tetapi saya belum bisa mengerti, ayah,” kata anak itu.

“Kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin banyak mendapatkan cinta di dunia ini, ya ciptakanlah cinta dalam hatimu. Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkanlah kemampuan dalam dirimu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Hidup bukan sebuah kebetulan, tetapi sebuah bayangan dari dirimu sendiri,” kata sang ayah, menjelaskan.

Bertumbuh secara Baik

Hidup manusia semestinya berbuah kebaikan bagi diri dan orang lain. Ketika kita melakukan hal-hal baik bagi orang lain sebenarnya kita lakukan itu demi kebaikan kita juga. Ketika kita mencintai orang lain dengan sepenuh hati, cinta itu akan tumbuh dalam perjalanan hidup kita.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani keluar dari diri kita sendiri. Anak itu bingung dengan gema yang ia peroleh dari teriakannya. Ketika ia mengatakan sesuatu yang negatif, gema negatif pula yang ia peroleh. Karena itu, sang ayah menggantinya dengan hal-hal yang positif. Tujuannya agar ia melakukan hal-hal yang positif dalam hidupnya. Ia mesti mendahulukan hal-hal positif, agar bertumbuh menjadi orang yang baik bagi diri dan orang lain.

Begitu banyak orang mengutamakan dirinya sendiri. Mereka kurang peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitar mereka. Mereka sibuk hanya untuk diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang kurang mencintai sesamanya. Belas kasih terhadap sesama tidak tumbuh secara spontan.

Tentu saja hal seperti ini bukan bagian dari hidup manusia. Manusia semestinya memiliki kepekaan satu terhadap yang lain. Manusia mesti menumbuhkan cinta yang mendalam kepada diri dan sesamanya, kepada orang-orang yang terdekatnya. Dengan cara ini, hidup manusia senantiasa berbuah kebaikan bagi diri dan sesama.

Orang beriman senantiasa memberikan hidupnya bagi kebahagiaan sesamanya. Melalui pemberian diri itu orang mampu menghasilkan buah-buah yang baik bagi diri dan sesamanya. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.