Seorang anak bertanya kepada Romo Joko, “Bagaimana Yesus yang besar bisa hadir dalam roti yang kecil?” Romo Joko yang saat itu baru ditahbiskan menjawab, “Mata kita itu kecil. Pemandangan itu besar. Bisa nggak (tidak) mata yang kecil, melihat pemandangan yang besar?” Anak itu menjawab, ‘Bisa.’ “Kalau kita bisa, apalagi Yesus,” simpul Romo Joko.

Dua baris pertama bangku Gereja Katolik Paroki Hati Kudus diduduki oleh anak-anak yang memakai jas dan dress putih. Mereka adalah putra-putri yang siap menerima Sakramen Ekaristi untuk yang pertama kalinya.
Bertepatan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu (2/6), puluhan anak menerima Sakramen Komuni Pertama di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Palembang. Sebelumnya, mereka telah disiapkan oleh para katekis. Persiapan terakhir sebelum menerima Tubuh dan Darah Tuhan mereka lakukan dengan menerima Sakramen Tobat.

Romo Antonius Joko SCJ, pastor kepala Paroki Hati Kudus, mengingatkan makna Sakramen Ekaristi yang sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Yesus. Ia memulainya dengan sebuah kisah dalam keluarganya.
“Keluarga besar kami kebanyakan Islam. Bapak-ibu saya menjadi Katolik setelah besar. Bapak saya dulu guru ngaji kemudian menjadi katekis. Mereka orangtua yang taat. Saya bersyukur ketika kecil bapak dan ibu selalu mengajak kami ke gereja. Kami diapit. Sana ibu, sana bapak. Kami bersyukur itu membentuk iman Katolik kami,” kisahnya.
Rasa penasaran Joko kecil akan iman Katolik hadir saat ia melihat orang tuanya menerima Komuni. “Saya bertanya kepada ibu, ‘Bu apa yang dimaem (dimakan)?’ ‘Yang dimaem Yesus.’ Minggu depannya saya minta dikit, tapi ibu tidak boleh. Tidak putus asa. Minggu depan minta ke romo, tidak dikasih,” lanjut Romo Joko.
Merupakan praktik yang fatal menurut Romo Joko, orang dewasa yang memberikan Tubuh Kristus yang telah diterimanya, kepada mereka yang belum waktunya menerima sakramen ini.
“Ketika anaknya merengek, diberikan ke anaknya. Itu tidak boleh. Biarlah anak-anak itu pada saatnya nanti, dipersiapkan dengan baik, menerima Tubuh dan Darah Kristus. Jadi jangan sampai kita sayang pada anak, sudah masuk ke mulut, dicuil sedikit.”
Anak-anak harus disiapkan lebih dahulu. Ini penting, kata Romo Joko, karena mereka harus mengerti, kalau yang mereka terima adalah Yesus, bukan roti biasa. Ia pun menjawab beberapa pertanyaan dengan analogi sederhana, tatkala anak-anak bertanya tentang Ekaristi.

“‘Romo bagaimana mungkin roti dan anggur yang biasa itu bisa berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus?’ Lalu saya katakan seperti ini: ketika kamu lahir, kamu tidak seperti ini. Kamu butuh makan dan minum. Kalau makanan biasa bisa menumbuhkan kita, maka Tuhan bisa membuat mukjizat roti dan anggur biasa menjadi Tubuh dan Darah Kristus.”
Juga dengan pertanyaan, “‘Bagaimana bisa Yesus yang sama hadir dalam hosti yang kecil-kecil yang banyak itu?’ Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Coba kamu pecahkan kaca. Lalu kamu ngaca di situ. Apakah mukamu pecah? ‘Tidak. Tetap utuh.’ Tidak ada yang mustahil bagi Allah.”
Di akhir homilinya pada Perayaan Ekaristi pagi itu, ia menegaskan bahwa Ekaristi tidak sekedar lambang. Yesus benar-benar hadir nyata. Tugas orang tua adalah mendampingi iman anak. Pelan-pelan mereka akan mengerti iman itu, karena Yesus sendiri yang mengajar mereka.
“Maka berbahagialah orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka bukan hanya untuk dibaptis, tapi juga komuni, krisma, dan nanti kalau mereka menjadi romo, suster, dan hidup berkeluarga, hantarlah mereka. Panggilan kita juga menjadi berkat bagi orang lain. Seperti yesus yang dipecah-pecahkan bagi kita, kitapun dipanggil menjadi manusia ekaristis yang dipecah-pecahkan bagi orang lain.”
**Kristiana Rinawati
Baca juga: Bacaan Liturgi Rabu, 05 Juni 2024
