Hari Minggu Paskah VII
Kis. 1:12-14; Mzm. 27:1,4,7-8; 1Ptr. 4:13-16; Yoh. 17:1-11a. BcO Kis. 24:1-27.
Menjadi Saksi Kristus di Era Digital

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita merayakan Minggu Paskah VII sekaligus Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. Melalui Kisah Para Rasul, kita diingatkan bahwa komunikasi iman tidak dimulai dari kecanggihan teknologi, melainkan dari kedalaman doa. Sebelum mewartakan kabar baik, para murid berkumpul dan bertekun dalam relasi dengan Tuhan. Ini adalah pesan kuat bagi kita: jangan sampai kesibukan kita di dunia maya membuat kita kehilangan saat-saat hening bersama Sang Sabda.
Di tengah kepungan berita palsu dan kebisingan informasi, kita dipanggil menjadi pembawa kejernihan. Menjadi saksi Kristus di era digital berarti memastikan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut maupun jempol kita adalah jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan. Komunikasi Kristiani harus memancarkan terang Tuhan melalui kejujuran dan kesaksian hidup yang nyata, bukan sekadar mengikuti arus tren yang dangkal.
Saudara-saudari terkasih, Paus Leo XIV dalam pesan tahun ini mengingatkan kita untuk “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI). Di dunia yang mulai didominasi algoritma, kita diajak untuk tidak kehilangan martabat dan empati. Jangan biarkan layar ponsel menghilangkan kemampuan kita untuk melihat wajah sesama sebagai pribadi yang dicintai Tuhan. Kita harus tetap kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang hanya mengandalkan emosi sesaat.
Injil hari ini mencatat doa Yesus agar kita semua bersatu. Doa ini menjadi pedoman utama: apakah kehadiran kita di media sosial membawa damai atau justru memicu perpecahan? Setiap unggahan, komentar, dan pesan singkat kita memiliki pengaruh. Sebagai komunikator iman, tanggung jawab kita adalah memelihara kesatuan dan persaudaraan, memastikan bahwa ruang digital yang kita tempati tetap menjadi ruang yang memanusiakan sesama.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita kembali ke sumber komunikasi sejati, yaitu hati Tuhan. Dari hati yang dekat dengan-Nya, akan lahir kata-kata yang menyembuhkan, menguatkan, dan memberi harapan. Mari jadikan momentum ini untuk menggunakan media apa pun sebagai sarana pewartaan kasih. Semoga kehadiran kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya, sungguh menjadi berkat yang menuntun banyak orang semakin dekat kepada Bapa. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Oliver Dito Agung Bekam Saputra (Tingkat I)
