Paus Fransiskus mengajak kita menggunakan teknologi artifisial (AI) dengan kebijaksanaan hati. Kemajuan teknologi komunikasi yang tanpa dibarengi kebijaksanaan hati, bisa menyesatkan dan menjerumuskan.

Seruan yang sama diwartakan para pegiat komisi komunikasi sosial (komsos) keuskupan-keuskupan se-Indonesia. Setiap tahun, dirayakan Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN). Durasinya cukup panjang. Biasanya sekitar sepekan dan tentu ada alasannya. Menurut Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap., uskup Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), hal ini karena Gereja ingin memperkenalkan pesan paus kepada umat beriman.
“Tujuannya adalah agar komunikasi antarmanusia sungguh manusiawi,” kata uskup agung Medan dalam homili Ekaristi di lapangan kampus Universitas Katolik St. Thomas, Medan, Sumatera Utara.
Tabuhan Gondang Batak mengiringi perarakkan uskup, para imam, dan petugas liturgi menuju altar. Pagi itu, Kamis (6/6) dirayakan Ekaristi Pembuka Perayaan Komunikasi Sosial Nasional XI. Dalam perayaan yang diikuti lebih dari dua puluh imam selebran dan dua ribu umat ini, Uskup Sipayung menyinggung pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-58, yaitu Kecerdasan Artifisial dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi.




Allah-lah Sang Kebijaksanaan Hati
Kecerdasan artifisial adalah kecerdasan buatan manusia, sementara kebijakan hati adalah hasil karya Allah. Dalam refleksinya, bapak uskup mengatakan, “bahwa Allah-lah Sang Kebijaksanaan Hati itu.”
Wajah Sang Kebijaksanaan rupanya telah diwartakan dalam Kitab-kitab Kebijaksanaan Perjanjian Lama.
“Pada awalnya adalah pemimpin karismatis, kemudian para nabi. Puncaknya kebijaksanaan yang adalah Sabda menjelma menjadi manusia hadir dalam diri Yesus Kristus. Model kebijaksanaan ada dalam Yesus Kristus. Allah adalah kasih. Di mana orang hidup dalam kasih, Allah ada dalam dia. Sang kebijaksanaan itu terekspresi dalam kasih, Deus caritas est. Ini nyata dalam seluruh hidup Yesus.”
Yesus, kata bapak uskup, beda dengan kebijaksanaan dunia. “Kebijaksanaan dunia didasarkan atas ambisi, mewajarkan bahkan balas dendam dan permusuhan. Beda dengan kebijaksanaan hati yang ada dalam Hati Yesus. Kebijaksanaan nyata dalam kerendahan Hati Allah yang menjelma menjadi manusia,” katanya.



Kemajuan teknologi komunikasi yang tanpa dibarengi dengan kebijaksanaan hati, bisa menyesatkan dan menjerumuskan. “Inilah yang diawaskan oleh Bapa Suci, agar kita menggunakan teknologi artifisial dengan kebijaksanaan hati.” Kebijaksanaan hati adalah hati yang dipenuhi kasih.
Setelah Ekaristi, sebanyak 55 peserta PKSN disuguhi oleh tari-tarian khas Sumatera Utara. Pembukaan PKSN XI ditandai dengan pemukulan gong oleh Mgr. Kornelius Sipayung yang disambut tepuk tangan meriah para hadirin.
**Kristiana Rinawati
Baca juga: Bacaan Liturgi Kamis, 06 Juni 2024
