Teknologi Berkembang, Manusia Bijaksana

Siapa yang lebih hebat, manusia atau mesin? Ada yang menjawab manusia, namun ada yang menjawab mesin. Lantas Prof. Eko bertanya tentang penjumlahan, kali, bagi, pangkat, dan sejarah. Makin lama pertanyaan makin sulit dijawab.

“Jadi siapa yang lebih hebat? Manusia atau mesin?” tanya Prof. Richardus Eko Indrajit, yang menjadi narasumber Seminar Kecerdasan Artifisial Kebijaksanaan Hati.

Prof. Richardus Eko Indrajit bersama dengan mahasiswa Unika St. Thomas Medan dalam Seminar Kecerdasan Artifisial Kebijaksanaan Hati | Foto: Kevin

Manusia Tetap Melebihi Teknologi

Teknologi diciptakan oleh manusia karena manusia sadar akan keterbatasannya. Prof. Eko mencontohkan kalkulator yang dapat menghitung lebih cepat dan akurat. Manusia membuat teknologi untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Prof. Eko membuat sebuah formula manusia dengan teknologi. “Manusia X + komputer = manusia yang ke X-annya menjadi-jadi.” Dia meminta 2.000 peserta di lapangan Universitas Katolik St. Thomas, Medan, siang itu untuk mengganti variabel X dengan sifat manusia.

“Manusia produktif + komputer = manusia yang keproduktifitasannya menjadi-jadi. Manusia penipu + komputer = manusia yang penipuannya menjadi-jadi,” kata Prof. Eko, yang adalah pakar teknologi informatika, Kamis (6/6).

Prof. Eko memaparkan delapan jenis kecerdasan yaitu verbal, musik, logika, visual, naturalis, motorik, interpersonal, dan intrapersonal. Lima dari kedelapan kecerdasan ini bisa digantikan oleh teknologi buatan, sedang tiga dari itu yaitu naturalis, interpersonal, dan intrapersonal tidak tergantikan. Ini karena ketiga kemampuan itu soal hati.

Paus: Semua Tergantung Manusia

Gereja Katolik, lewat paus, kata Prof. Eko, sudah berbicara soal manusia dan teknologi buatan (artifisial). Ini disampaikan lewat surat-surat untuk hari komunikasi sosial.

“Bapa Paus tahu dari dulu. Ada mendengarkan dengan hati, bebicara dengan hati, pakai ai dengan hati. Yang tidak akan bisa dimiliki mesin itu hati.”

Lewat berbagai himbauannya, paus ingin mengatakan kalau yang mewarnai teknologi bukan teknologinya, tapi manusialah yang mewarnai teknologi. “Kalau tukang nyontek pakai komputer, nyonteknya makin menjadi-jadi. Tapi kalau dermawan pakai komputer, kedermawannya makin menjadi-jadi.”

High Tech dan High Touch

Penulis dan futuris asal Amerika Alvin Toffler pada tahun 1970 memperkenalkan High Tech dan Hi Touch. High tech adalah teknologi tinggi ciptaan manusia, sementara high touch mewakili sentuhan yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. 

Hi tech adalah artificial intelligence (ai), hi touch adalah kebijaksanaan hati. Kita cerdas dengan teknologi, bijak karena hati,” kata Prof. Eko. Teknologi akan terus berkembang, namun yang punya hati dan perasaan hanya manusia.

Menggelitik siang itu, sebuah pertanyaan, ada robot di Jepang yang bisa seperti manusia yang punya perasaan, dapat menangis dan tertawa. Apakah suatu saat teknologi bisa benar-benar membuat manusia? Prof Eko menjawab, bahwa perasaan yang dimiliki robot itu buatan. “Kecerdasan artifisial artinya emosi yang artifisial, empati artifisial, bukan emosi yang otentik.” Teknologi hanya mempelajari apa yang mau dibuat oleh manusia, lantas ditiru. Tiruan tidak dapat menggantikan sesuatu yang otentik. 

**Kristiana Rinawati

Baca juga: Yuk, Gunakan Teknologi AI dengan Kebijaksanaan Hati!

Leave a Reply

Your email address will not be published.