Bertepatan dengan Pesta Bertobatnya Santo Paulus Rasul pada hari Sabtu lalu (25/2), 7 orang frater menerima tahbisan diakon di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono dan dihadiri oleh sejumlah imam, biarawan/biarawati, dan umat dari berbagai dekanat. Mengawali homilinya, Bapak Uskup mengajak umat untuk merefleksikan kisah pertobatan Santo Paulus.

Santo Paulus merupakan sosok rasul yang pernah menuduh Santo Petrus dan Barnabas sebagai orang yang munafik. Barnabas berperan penting dalam hidup Santo Paulus. Setelah pertobatannya di Damsyik, Santo Paulus langsung pergi ke tanah Arab untuk mewartakan Kristus. Namun karena gagal, ia lalu pulang ke kampung halamannya.
Melalui kisah Santo Paulus, Bapak Uskup ingin umat memiliki kemauan untuk senantiasa bertobat.
“Bertobatlah setiap hari! Luruskan jalan untuk ikut Tuhan,” katanya.
Kepada para frater yang akan ditahbiskan, Bapak Uskup juga ingin agar mereka menjaga panggilannya dengan pertobatan.
“Panggilan ini mulia, sayang kalau dicemari. Panggilan itu berarti ambil bagian dalam karya Tuhan. Laksanakan sebaik-baiknya, setulus-tulusnya, dan jangan pernah mencemarinya! Andaikan pernah jatuh karena kelekatan kita dengan kemanusiaan, bertobatlah. Sadarilah bahwa kita manusia yang harus terus menerus mohon kekuatan pada Tuhan. Jika kita hidup penuh syukur, maka kita akan terus berjalan bersama Tuhan.”

Tujuh orang diakon yang ditahbiskan adalah Fr. Daniel Depan Pratama, Fr. Stanislaus Kostka Bima Dwi Atmaja, Fr. Gregorius Virdiawan Mubin SCJ, Fr. Agustinus Dwi Handono SCJ, Fr. Isidorus Bryan Bowo Pangestu SCJ, Fr. Andreas Suko Ari Wasono SCJ, dan Fr. Albertus Frans Yoseph Kriswantoko SCJ.

Spes Non Confundit
Ketujuh diakon yang baru ditahbiskan mengangkat tema Spes Non Confundit yang berarti Pengharapan tidak akan mengecewakan. Diakon Daniel mewakili teman-temannya mengatakan bahwa perjalanan panggilan mereka melatarbelakangi pemilihan tema tahbisan ini.

“Dalam perjalanan kami sering merasa lelah, ada harapan yang tak terwujud, dan kami sering merasa gagal. Tapi dengan pengharapan yang Tuhan berikan, kami memiliki pemikiran berbeda. Kami mohon doa supaya kami tetap setia, supaya pengharapan anda (pada kami) tidak mengecewakan,” kata Diakon Daniel ketika menyampaikan sambutannya.
Romo Andreas Suparman SCJ selaku Pater Provinsial SCJ juga berpesan untuk para diakon agar senantiasa membuka hati untuk Tuhan.
“Proficiat atas keterbukaan hati menerima rahmat agung Allah. Semoga hidupmu dipenuhi sukacita dalam kesatuan bersama Allah, dan mempersembahkan hidup hanya bagi Allah dan gerejanya.”

Sebelum memberikan berkat penutup, Bapak Uskup juga memberikan pesan khusus bagi ketujuh diakon yang baru ditahbiskan melalui pantun yang menjadi ciri khasnya.
“Main dakon di keuskupan. Main dakon rame-rame. Diakon artinya pelayanan. Di-akon rono yo rono, di-akon rene yo rene (Disuruh ke sana ya ke sana, disuruh ke sini ya ke sini).”

** Maria Sylvista
