1Ptr. 4:7-13; Mzm. 96:10,11-12,13; Mrk. 11:11-26. BcO 1Tim. 4:1-16.
Sarang Penyamun

Saudara-saudari terkasih, saat membayangkan Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah, kita mungkin bertanya: bukankah Yesus itu lemah lembut? Mengapa Ia bertindak begitu keras, bahkan terlihat kasar dengan membalikkan meja-meja bahkan mengusir orang-orang? Dari sini sebenernya kita bisa merengungkan bahwa Yesus tidak marah tanpa alasan. Ia ingin mengembalikan makna Bait Allah sebagai tempat perjumpaan dengan Tuhan, bukan tempat yang dipenuhi kebisingan dan kepentingan duniawi semata. Karena kasih-Nya, Ia tidak membiarkan yang suci kehilangan maknanya.
Kisah ini tidak hanya tentang Bait Allah, tetapi juga tentang diri kita. Mungkin dari kebanyakan kita sering mendengar atau bahkan menyanyikan lagu, “Jadikanlah hatiku istana cinta-Mu, tempat yang layak untuk bersemayam tubuh dan darahMu” Namun, apakah hati kita sungguh menjadi tempat yang layak bagi Tuhan?
Sering kali hati kita dipenuhi “kebisingan”: ambisi, kecemasan, keinginan duniawi, bahkan sikap egois yang perlahan menyingkirkan Tuhan. Tanpa sadar, hati yang seharusnya menjadi tempat doa berubah menjadi “sarang penyamun”.
Hari ini kita diajak untuk melihat lebih dalam lagi ke dalam diri kita. Apakah hati kita masih menjadi tempat perjumpaan yang layak dengan Tuhan, atau sudah penuh dengan hal lain? Dan lebih dari itu, beranikah kita memberi ruang bagi Yesus untuk masuk, membersihkan, dan menata kembali hidup kita?
Mungkin proses itu tidak nyaman dan tidak mudah. Namun justru di sanalah kasih Tuhan bekerja, Ia yang akan memulihkan dan mengembalikan kita pada tujuan semula: menjadi tempat di mana Ia berdiam. Namun Yesus tidak ingin sendiri, Ia membutuhkan kita untuk terbuka dan menanggapi kasihNya dengan mau ikut serta dalam proses tersebut. Sebab Tuhan merindukan hati yang hening, sederhana, dan terbuka bagi-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Tinon Bayu (Tingkat V)
