Pemerintah Ukraina mengatakan upaya baru sedang dilakukan untuk mengevakuasi setidaknya ratusan warga sipil dari pabrik baja di kota Mariupol yang hancur di negara itu. Namun bentrokan yang sedang berlangsung menghambat upaya tersebut.
Operasi pembersihan sedang berlangsung di antara reruntuhan Mariupol, yang sekarang hampir seluruhnya diduduki oleh militer Rusia. Para pekerja membantu memasang bendera Rusia di dekat bangunan yang hancur, seperti teater di mana para pejabat mengatakan ratusan orang tewas dalam serangan Rusia.
Pihak berwenang mengklaim bahwa setidaknya 200 warga sipil di kota selatan Ukraina yang hancur ini, termasuk sekitar 20 anak-anak, masih bersembunyi di bunker pabrik baja besar di sini. Dan dilaporkan ada sekitar 2.000 pejuang Ukraina di pabrik tersebut, yang menjadi simbol perlawanan di tengah invasi Rusia yang sedang berlangsung ke Ukraina.
Andriy Yermak, kepala staf presiden Ukraina, mengatakan hampir 500 warga sipil telah dipindahkan dengan aman dari Mariupol sejak operasi penyelamatan terbaru yang dipimpin PBB dimulai awal pekan ini. Tetapi ada kekuatiran yang meningkat bahwa lebih banyak lagi yang akan mati di pabrik dan mungkin di tempat lain di Mariupol. Kyiv mengklaim puluhan ribu orang tewas dalam penembakan Rusia tanpa henti sebelum pasukan Rusia masuk.

Peringatan terhadap Pejuang
Dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan Ukraina bahwa para pejuangnya yang masih bertahan di pabrik baja Azovstal harus menyerah. Merebut seluruh Mariupol adalah simbol penting bagi Rusia menjelang Hari Kemenangan 9 Mei tahunan, menandai kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua.
Seorang pria berkata: “Kami membantu misi kemanusiaan ini untuk memulihkan monumen dan taman di Mariupol menjelang perayaan 9 Mei.” Mengambil alih Mariupol juga dipandang sebagai upaya penyelamatan muka oleh Rusia setelah kehilangan kapal perang bergengsinya, Moskva, yang dinamai menurut nama ibukota Rusia.
Ada laporan bahwa AS memberikan intelijen yang membantu Ukraina menenggelamkan kapal itu.
Namun, Washington membantah laporan lain bahwa Amerika Serikat membantu Ukraina untuk menargetkan dan membunuh jenderal Rusia dalam serangan terpisah baru-baru ini di markas militer. **
Stefan J Bos (Vatican News)
