“Meneladani Yesus dan Santo Yohanes Maria Vianney”

Dalam Injil Matius 14:13-21, kita mendengar kisah penggandaan lima roti dan dua ikan. Peristiwa ini diawali dengan Yesus yang sebenarnya ingin menyendiri setelah mendengar kabar kematian Yohanes Pembaptis. Namun, ketika Ia melihat banyak orang mengikuti-Nya, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia menyembuhkan mereka, mengajar mereka, dan bahkan memberi mereka makan sampai kenyang. Inilah potret sejati dari hati seorang Gembala yang selalu mendahulukan kebutuhan umat daripada dirinya sendiri.
Peristiwa ini selaras dengan teladan hidup Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam paroki. Ia dikenal sebagai gembala yang rendah hati dan penuh pengorbanan. Di tengah keterbatasannya secara intelektual, ia melayani umatnya dengan cinta yang mendalam. Ia menghabiskan berjam-jam setiap hari di ruang pengakuan dosa, menyambut orang-orang yang datang dari jauh hanya untuk mencari pengampunan dan kedamaian. Seperti Yesus yang memberi makan ribuan orang dengan roti, Vianney memberi “roti kehidupan” melalui Sakramen dan nasihat rohaninya.
Yesus mengajak para murid untuk ikut ambil bagian dalam karya belas kasih itu: “Kamu harus memberi mereka makan.” Ini bukan sekadar ajakan, tetapi panggilan untuk terlibat dalam pelayanan kasih. Vianney menjawab ajakan ini dengan menyerahkan seluruh hidupnya demi keselamatan jiwa-jiwa. Ia tidak hanya berkhotbah dengan kata-kata, tetapi dengan hidup yang penuh doa, pantang, dan penderitaan demi umatnya.
Hari ini, kita diajak untuk meneladan semangat Yesus dan Santo Yohanes Maria Vianney: hati yang tergerak oleh belas kasihan dan tangan yang mau berbagi, meskipun dengan apa yang sedikit kita miliki. Dunia saat ini tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga lapar akan kasih, pengampunan, dan kehadiran orang-orang yang mau mendengarkan dan memahami.
Marilah kita belajar untuk tidak menutup diri dari penderitaan sesama. Seperti Yesus dan Santo Yohanes Maria Vianney, semoga kita menjadi pribadi yang hadir, peduli, dan siap memberi diri agar dalam dunia yang sering kali kering kasih, kita menjadi tanda bahwa Allah masih bekerja lewat hati manusia yang mau mencintai.
Mari bermenung, Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
