Renungan Minggu, 10 Agustus 2025

“Maria, Perempuan Terkandung dalam Kemuliaan Allah”

Ikon Maria | Foto: Pinterest

Hari ini Gereja merayakan salah satu misteri agung keselamatan: Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Perayaan ini bukan hanya tentang kemuliaan Maria, tetapi tentang harapan kita semua. Dalam diri Maria, kita melihat gambaran sempurna dari rencana Allah bagi umat manusia: kehidupan yang penuh kasih, pengabdian total kepada kehendak Allah, dan akhirnya dimuliakan dalam hadirat-Nya.

Dalam bacaan Injil dari Lukas 1:39–56, Maria mengunjungi Elisabet. Di sana, Maria memuji kebesaran Tuhan lewat Magnificat, nyanyian indah dari hati yang penuh iman dan syukur. Ia mengakui bahwa Allah telah memperhatikan kerendahan hambanya, bahwa yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan besar baginya. Maria menampilkan diri bukan sebagai tokoh utama, tapi sebagai hamba Tuhan, tempat di mana Allah berkarya dengan sempurna.

Kemuliaan Maria tidak terlepas dari ketaatannya yang total dan hidupnya yang sepenuhnya terbuka bagi rencana Allah. Oleh karena itu, ia layak menerima kemuliaan surgawi, menjadi tanda harapan bagi seluruh umat beriman: bahwa siapa pun yang hidup setia kepada Allah juga akan dimuliakan bersama-Nya.

Sementara itu, bacaan dari Kitab Wahyu menampilkan gambaran simbolis yang dalam: “Tampaklah suatu tanda besar di langit: seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menggembalakan semua bangsa. Ini adalah gambaran Gereja saat ini yang senantiasa mengalami tantangan dan ancaman.

Naga besar merah yang hendak menelan Anak itu melambangkan kekuatan kejahatan yang selalu ingin menghancurkan karya keselamatan. Tetapi Allah melindungi sang Anak dan perempuan itu. Ini menjadi pengingat bahwa dalam sejarah keselamatan, penderitaan dan peperangan rohani selalu hadir, namun Allah tetap menjadi pelindung dan pemenang terakhir. Dan di tengah semua itu, Maria tetap teguh sebagai simbol keberanian dan iman.

Maria adalah perempuan yang menang bukan dengan kekuatan duniawi, melainkan dengan kerendahan hati, iman, dan kasih. Dalam pengangkatan Maria ke surga, kita melihat bahwa hidup yang bersatu dengan Kristus tidak akan binasa, tetapi akan dibangkitkan dan dimuliakan.

Perayaan hari ini meneguhkan harapan kita: bahwa tubuh kita, yang rapuh dan fana ini, juga dipanggil untuk menerima kemuliaan seperti Maria, jika kita setia kepada Tuhan. Maria adalah tanda kemenangan kasih Allah, dan sekaligus ibu yang mendampingi peziarahan hidup kita di dunia ini.

Mari kita mohon kepada Bunda Maria yang telah dimuliakan di surga, agar kita pun dikuatkan dalam perjuangan iman, tetap rendah hati, setia, dan berani mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Di tengah dunia yang sering mengagungkan kekuatan dan kesombongan, semoga kita tetap berani berjalan seperti Maria: dalam keheningan, pelayanan, dan iman yang teguh.

Tuhan memberkati.

** Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.