Kesetiaan: Panggilan untuk Mencintai Sampai Akhir

Dalam Injil Matius 19:3-12, Yesus berbicara tentang kesetiaan dalam pernikahan. Orang Farisi mencoba menjebak-Nya dengan pertanyaan tentang perceraian, tetapi Yesus mengarahkan mereka kembali pada rencana awal Allah: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Di sini Yesus menegaskan bahwa cinta sejati tidak bersifat sementara atau mudah dilepaskan ketika menghadapi kesulitan. Cinta sejati adalah keputusan untuk setia, bukan hanya perasaan sesaat.
Perkataan Yesus ini bukan hanya untuk pasangan suami-istri, tetapi juga relevan bagi setiap orang yang dipanggil untuk setia pada panggilan hidupnya. Dalam hidup membiara, imamat, atau hidup selibat, kesetiaan juga menjadi dasar. Setia berarti menerima suka dan duka, kelemahan dan kekuatan, sambil terus percaya bahwa Allah yang memanggil akan memampukan kita untuk menghidupinya.
Yesus juga menyebut tentang orang yang memilih hidup selibat “karena Kerajaan Surga.” Pilihan ini bukan karena menolak cinta, melainkan karena ingin mengarahkan seluruh cinta kepada Allah dan pelayanan sesama. Hidup selibat, seperti halnya perkawinan, adalah tanda komitmen yang mendalam, yang memerlukan pengorbanan dan rahmat setiap hari.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan sejati selalu berakar pada kasih Allah. Entah kita hidup berkeluarga atau selibat, kita dipanggil untuk mengasihi dengan hati yang utuh dan tidak terbagi, setia sampai akhir. Kesetiaan bukanlah beban, melainkan jalan menuju kebahagiaan sejati, karena di sanalah kita mencerminkan cinta Allah yang tak pernah meninggalkan kita.
Doa:
Tuhan, ajarilah aku untuk setia dalam panggilanku. Dalam suka dan duka, biarlah aku tetap mengasihi seperti Engkau mengasihi—tanpa syarat, tanpa batas, dan sampai akhir. Amin.
Tuhan memberkati.
** Fr. Bednadetus Aprilyanto
