Renungan Harian, 20 Agustus 2025

“Kesetiaan Lebih Utama daripada Hitung-Hitungan: Belajar dari Pekerja Kebun Anggur dan Santo Bernardus”

Santo Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja | Foto: Pinterest

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang tuan kebun anggur yang mempekerjakan para pekerja pada jam yang berbeda-beda. Ada yang mulai bekerja sejak pagi, ada yang siang, bahkan ada yang baru datang sore hari. Namun, ketika tiba saatnya pembagian upah, semuanya mendapat bagian yang sama. Hal ini tentu menimbulkan rasa kecewa bagi mereka yang merasa bekerja lebih lama, tetapi sang tuan menegaskan: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Pesan Yesus sangat jelas: keselamatan adalah anugerah, bukan hasil hitung-hitungan manusia. Allah memanggil setiap orang pada waktunya, dan Ia memberikan rahmat keselamatan yang sama kepada semua yang menanggapi panggilan-Nya. Kasih dan kemurahan hati Allah melampaui cara berpikir manusia yang sering terjebak dalam logika untung rugi. Ia tidak mengukur panjang-pendeknya waktu, tetapi ketulusan hati dan kesetiaan kita.

Hari ini Gereja juga memperingati Santo Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, seorang rahib yang hidup pada abad ke-12. Ia dikenal sebagai pembaharu hidup monastik di biara Cîteaux dan sebagai pengajar rohani yang penuh hikmat. Kata-katanya dijuluki Doctor Mellifluus — “doktor yang manis seperti madu” — karena ajarannya begitu dalam namun menyejukkan hati. Santo Bernardus menekankan pentingnya kerendahan hati, cinta kasih kepada Allah, dan pengabdian total bagi Gereja.

Seperti para pekerja di kebun anggur, Bernardus sadar bahwa hidup rohani bukan soal siapa yang lebih lama atau lebih hebat, melainkan soal siapa yang setia menjawab panggilan Allah. Ia tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, tetapi berfokus pada kesetiaan dalam melayani Kristus. Dari kerendahan hati dan cintanya inilah lahir buah rohani yang melimpah, yang tidak hanya membaharui para rahib, tetapi juga menguatkan seluruh Gereja.

Saudara-saudari, kita pun sering kali jatuh pada sikap iri hati dan perbandingan: merasa lebih rajin, lebih layak, atau lebih berjasa dari orang lain. Namun, hari ini Yesus mengingatkan kita untuk tidak menghitung-hitung upah, melainkan bersyukur atas kemurahan hati Allah. Belajar dari Santo Bernardus, marilah kita hidup dengan kerendahan hati, melayani dengan cinta, dan setia bekerja di kebun anggur Tuhan tanpa membandingkan diri dengan orang lain.

Pada akhirnya, yang penting bukanlah siapa yang pertama atau terakhir, melainkan kesediaan kita untuk setia sampai akhir. Upah kita sama: persatuan penuh dengan Kristus, Sang Kasih Sejati. Amin.

**Fr. Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.