“Bertepatan dengan hari istimewa ini, kami para Redemptoris bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan berjumpa bersama umat di Karang Pulau. Terutama kita bersyukur karena diberi Bunda Gereja, Bunda orang beriman, yaitu Bunda Maria. Melalui tangan Bapa Uskup, kita mohon berkat Tuhan agar gua, patung, dan altar ini menjadi tempat bagi kita memanjatkan doa, agar rahmat Allah senantiasa berlimpah dalam karya dan pelayanan kita di tengah masyarakat, lingkungan, dan basis kita masing-masing.”

Demikian disampaikan oleh Pastor Paroki Santo Paulus Pinang Raya, Bengkulu Utara, Pastor Nikolaus Lusi Uran CSsR dalam pengantarnya pada Perayaan Ekaristi Pemberkatan Gua Maria Ratu Rosario di Stasi St. Tarsisius Karang Pulau pada Kamis (16/10/2025) pekan lalu. Perayaan syukur yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono ini dirangkai juga dengan Pesta Santo Gerardus Majella, seorang Redemptoris yang digelari kudus karena kesalehannya.
Hadir mendampingi sebagai konselebran adalah Pastor Nikolaus Lusi Uran CSsR, Pastor Paroki Santo Thomas Rasul Arga Makmur, Pastor Octavianus Babu CSsR, dan para pastor rekan dari kedua paroki tersebut, yaitu Pastor Yohanes Paulus Tukan CSsR dan Pastor Antonius Balla Nggandung CSsR.

Meski di tengah guyuran hujan, semangat ratusan umat yang hadir tidak surut. Dengan memakai jas hujan atau payung mereka tetap tampak antusias dan penuh kerinduan untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini.
Jangan Segan Berdoa Bersama Bunda Maria
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes menyampaikan pesan iman yang mendalam mengenai kemahakuasaan Allah dan kasih universal-Nya yang berlaku bagi semua orang, bukan hanya untuk satu suku, bangsa, atau kelompok tertentu.
“Kalau Tuhan hanya Allahnya satu suku, satu kaum, atau satu bangsa, maka Dia bukan Tuhan yang Maha Kuasa. Tapi karena Dia Maha Kuasa, maka Ia Allah bagi semua bangsa di dunia ini, dengan segala latar belakang dan bahasanya.”

Ia menambahkan bahwa Tuhan dapat didekati dengan bahasa dan budaya apa pun, sebab kasih dan kuasa-Nya melampaui segala batas manusia. Allah mengasihi tanpa pilih kasih karena semua manusia adalah gambar diri-Nya.
Ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini juga menegaskan bahwa dalam iman Kristiani, Allah bukan Allah yang menuntut persembahan, melainkan Allah yang mempersembahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia. “Allah mempersembahkan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk menjadi silih bagi dosa manusia. Ia menjadi manusia melalui seorang perempuan, Maria,” ungkap Bapa Uskup.
Melanjutkan refleksinya, Mgr. Yohanes menyoroti peran Maria dalam karya keselamatan Allah. Ia mengingatkan bahwa Maria, karena persatuannya dengan Yesus, menjadi perantara kasih Allah yang nyata. “Berkat pertolongan Maria, Yesus rela menolong bahkan sebelum waktunya, seperti di perjamuan Kana. Jangankan mengubah air menjadi anggur, mati di salib pun Ia rela,” tegasnya.


Mengakhiri homilinya Bapa Uskup menekankan bahwa penderitaan bukanlah kehendak Allah, tetapi keselamatan manusialah yang menjadi kehendak Bapa. “Maria bersama Yesus rela menanggung sengsara demi keselamatan manusia. Maka jangan segan berdoa bersama Bunda Maria agar Allah terus berkenan kepada kita.”
Doa dan Sukacita di Bawah Langit yang Cerah
Setelah homili, perayaan dilanjutkan dengan pemberkatan Gua Maria Ratu Rosario dan altar yang terletak di halaman belakang gereja. Saat prosesi pemberkatan hendak dimulai, ‘mukjizat’ terjadi. Hujan yang sejak sore mengguyur tiba-tiba berhenti. Langit menjadi cerah dan suasana berubah menjadi tenang penuh damai sehingga prosesi pemberkatan dapat berlangsung dengan khidmat dan lancar.


Umat yang ikut dalam perayaan menundukkan kepala dalam doa syukur, menyadari bahwa Allah hadir secara nyata lewat tanda sederhana itu, tanda berkat Tuhan yang turun melalui Bunda Maria Ratu Rosario. Wajah-wajah penuh haru terlihat di antara lilin yang menyala, menandai momen spiritual yang tak terlupakan. Pemberkatan ini menorehkan sejarah hadirnya tempat devosi baru bagi umat di Bengkulu Utara, yang diharapkan menjadi pusat doa dan pengharapan bagi siapa pun yang datang dengan hati terbuka.
**Fr. Bednadetus Aprilyanto
Foto: Komsos KAPal
