Seminar Hari Pangan Sedunia 2025: Gereja Peduli Pangan Tanda Hormat pada Martabat Manusia

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) 2025, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang menunjuk Paroki Santo Petrus Kenten Palembang menjadi tuan rumah penyelenggara kegiatan tahunan bertajuk “Membangun Jejaring Pendistribusian Pangan Sehat yang Berkelanjutan” yang berlangsung pada 24-26 Oktober 2025.

Ada beragam kegiatan yang digelar untuk memeriahkan perayaan HPS, seperti seminar, Perayaan Ekaristi, dan pesta rakyat. Pada Sabtu (25/10/2025) materi utama yang disajikan adalah seminar. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 170 peserta yang berasal dari 29 paroki, dua kuasi paroki, satu pos pelayanan, serta berbagai kelompok kategorial, koperasi, dan lembaga sosial dari seluruh Keuskupan Agung Palembang.

Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini adalah Sekretaris Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Aegidius Eko Aldilanto O.Carm, Analis Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, David Simanungkalit, dan Koordinator Kerasulan Sosial Konferensi Yesuit Asia Pasifik (JCAP), Romo Adrianus Suyadi SJ.

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini tidak hanya menjadi ajang peringatan simbolis, tetapi juga wadah refleksi dan pembelajaran bersama mengenai tanggung jawab moral, sosial, dan ekologis dalam mewujudkan sistem pangan yang adil dan berkelanjutan.

Pangan adalah Anugerah Allah

Mengawali paparannya sebagai pemateri pertama, Romo Aegidius Eko Aldilanto O.Carm, menjelaskan bahwa pangan adalah hak dasar dan anugerah Allah yang tidak boleh diperlakukan semena-mena. Setiap tindakan manusia terhadap pangan mencerminkan sikap terhadap Sang Pencipta. Gereja, melalui ajaran sosialnya, mengajak umat untuk melihat pangan bukan hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun solidaritas, keadilan, dan tanggung jawab ekologis.

Imam yang pernah bertugas sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) KWI ini juga menyoroti peran Gereja Katolik dalam memperjuangkan hak atas pangan dari sudut pandang teologi dan ajaran sosial Gereja. Menurutnya, kepedulian Gereja terhadap pangan bukan sekadar tindakan sosial atau filantropi, melainkan bagian integral dari misi iman yang berakar pada penghormatan terhadap martabat manusia.

Romo Eko O.Carm memaparkan materinya kepada peserta seminar.

Imam yang biasa disapa Romo Eko ini juga menambahkan bahwa pertanian organik dan upaya pemberdayaan petani lokal sebagai bagian dari perjuangan menuju kedaulatan pangan merupakan hal yang penting dan perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, hal itu sejalan dengan gagasan ekologi integral seperti yang diuraikan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. “Manusia tidak dapat berbicara tentang pangan tanpa memperhatikan keseimbangan alam, sebab kerusakan lingkungan sering kali menjadi akar dari ketimpangan pangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, anggota Ordo Karmel ini juga mengingatkan tugas Gereja untuk menciptakan sistem yang adil agar semua orang hidup sejahtera. “Ketika kita berbicara tentang pangan, kita sedang berbicara tentang hidup, martabat, dan masa depan manusia. Gereja terpanggil bukan hanya memberi makan yang lapar, tetapi juga menciptakan sistem yang adil agar tidak ada lagi yang kelaparan.”

**Fr. Bednadetus Aprilyanto

Foto: Komsos KAPal

Leave a Reply

Your email address will not be published.