Paus Menandatangani Surat Apostolik Memperingati 60 Tahun Gravissimum Educationis

Pada hari Senin, Paus Leo XIV bergabung bersama para mahasiswa dari universitas-universitas kepausan di Roma dalam rangka perayaan Yubileum Dunia Pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, Bapa Suci menandatangani Surat Apostolik yang ditujukan untuk mengenang enam puluh tahun diterbitkannya Gravissimum Educationis: deklarasi Konsili Vatikan II tentang pendidikan Kristen, sekaligus mengajak Gereja untuk merefleksikan kembali makna dan tantangan pendidikan pada masa kini, khususnya bagi sekolah dan universitas Katolik. Surat itu akan secara resmi dipublikasikan pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Setelah penandatanganan dokumen tersebut, Paus memimpin Perayaan Ekaristi di Basilika Santo Petrus. Dalam homilinya, Paus menekankan makna ziarah iman yang menggambarkan perjalanan hidup manusia. “Hidup hanya memiliki makna ketika dijalani sebagai sebuah perjalanan,” ujarnya. Melintasi ambang Pintu Suci, lanjutnya, mengingatkan umat beriman bahwa iman, seperti halnya hidup, bukanlah sesuatu yang statis, melainkan gerak terus-menerus dari kematian menuju kehidupan, dari perbudakan menuju kebebasan. Pengalaman Paskah inilah yang mengundang pembaruan dan menyalakan harapan tanpa henti.

Paus Leo XIV memimpin Perayaan Ekaristi bagi para mahasiswa Universitas Kepausan.

Berbicara kepada para mahasiswa dan cendekiawan yang hadir, Paus Leo XIV mengajukan pertanyaan yang sederhana namun mendalam: “Anugerah apa yang paling dalam menyentuh hidup kalian?” Ia kemudian menjawab sendiri, “Itulah rahmat dari pandangan yang luas – kemampuan untuk menatap cakrawala dan melihat melampaui diri sendiri.” Pandangan luas ini, menurut Paus, adalah buah dari pendidikan sejati yang membuka hati terhadap misteri, kebenaran, dan kasih.

Mengulas Injil Lukas (13:10–17) tentang penyembuhan seorang wanita yang membungkuk selama delapan belas tahun, Paus menafsirkan mukjizat itu sebagai gambaran pembebasan yang diberikan oleh pengetahuan dan iman. Kondisi wanita yang tak dapat berdiri tegak mencerminkan manusia yang terpenjara oleh ego dan pandangan sempit. “Ketika manusia tidak sanggup melihat melampaui dirinya, ia kehilangan kebebasan untuk menilai dan mencintai,” ujar Paus. Kristus, lanjutnya, datang untuk menegakkan kembali martabat manusia – demikian pula pendidikan yang sejati membebaskan akal budi dan menuntun pada kebenaran.

Para mahasiswa yang mengikuti perayaan ekaristi bersama Bapa Paus.

Karena itu, Paus menegaskan bahwa belajar adalah sebuah tindakan kasih yang memerdekakan. Pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, tetapi sebuah proses penyembuhan yang mengangkat manusia dari keterbatasannya. “Mereka yang belajar sesungguhnya sedang ditegakkan,” ujar Paus, “dibangkitkan untuk menatap ke atas – kepada Allah, kepada sesama, dan kepada misteri kehidupan.” Dalam terang ini, pendidikan menjadi bagian dari karya penyelamatan Kristus yang berlanjut di tengah dunia.

Paus Leo juga menyoroti bahaya fragmentasi pengetahuan di dunia modern. Dunia, katanya, kini “sangat terampil dalam hal-hal kecil, tetapi kehilangan pandangan menyeluruh yang menghubungkan pengetahuan dengan makna.” Ia mengajak para dosen dan mahasiswa untuk meneladani para kudus seperti Agustinus, Thomas Aquinas, Teresa dari Ávila, dan Edith Stein, yang menghidupi kesatuan antara iman dan akal budi. Gereja, tegas Paus, membutuhkan pandangan menyeluruh ini agar pendidikan sungguh membentuk pribadi yang utuh, cerdas, dan berbelas kasih.

Paus Leo XIV dalam perayaan ekaristi bersama para mahasiawa.

Lebih lanjut, Paus menggambarkan peran pendidik sebagai karya belas kasih sejati. Mengajar, katanya, berarti menolong orang lain untuk berdiri tegak, menemukan dirinya, dan mengembangkan hati nurani yang bebas. Ia menegaskan bahwa universitas-universitas kepausan hendaknya menjadi tempat di mana kasih diwujudkan melalui studi dan pelayanan. “Memberi makan pada rasa lapar akan kebenaran,” kata Paus, “bukan hanya tugas akademis, melainkan panggilan kemanusiaan yang mendasar.”

Mengakhiri homilinya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa pencarian akan kebenaran bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan identitas sebagai anak-anak Allah. Mengutip surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:15), ia mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kasih yang membebaskan. Paus pun berdoa agar semua yang terlibat dalam dunia pendidikan menjadi “pria dan wanita yang tidak membungkuk pada diri sendiri, tetapi selalu berdiri tegak,” membawa sukacita dan pengharapan Injil ke mana pun mereka pergi.

Oleh: Francesca Merlo, Vatican News

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto

Foto: Vatican Media

Leave a Reply

Your email address will not be published.