“Apa itu era disruptif? Apakah ada dampaknya terhadap Perguruan Tinggi di Indonesia? Kalau ada, apa dampaknya? Bagaimana harus diantisipasi? Merupakan pertanyaan yang hendak kita dalami bersama.”
Demikian diungkapkan oleh Hendro Setiawan saat mengawali materi Orasi Ilmiahnya bertajuk Inovasi Perguruan Tinggi Di Era Disruptif yang disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) Palembang, Jumat (24/10/2025) pagi. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangkaian perayaan puncak Dies Natalis Ke- 11 UKMC yang mengusung tema Ut Omnes Unum Sint: Bersatu untuk UKMC Maju.

Ratusan peserta, terdiri dari sivitas akademika UKMC dan undangan tampak memenuhi Aula Fakultas Sains dan Teknologi, Kampus Bangau. Hadir dalam kegiatan ini antara lain Uskup Agung Palembang dan Pembina Yayasan Musi Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Ketua Yayasan Musi Palembang, Pastor Donatus Kusmartono SCJ, Ketua Senat UKMC, Pastor Florentinus Heru Ismadi SCJ, dan Rektor UKMC, Maria Yosaphat Dedi Haryanto.
Lulusan STF Driyarkara Jakarta ini mengungkapkan pentingnya merefleksikan perjalanan di tengah arus zaman yang terus berubah. Menurutnya, tanpa kesediaan untuk berhenti sejenak merefleksikan perubahan zaman, ada resiko hanyut jauh hingga tidak dapat kembali. Ia menjelaskan pandangannya dengan mengutip filsuf besar Yunani, Socrates, yang menyatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak dijalani. Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (GS) pun mengajak umat beriman untuk selalu merefleksikan tanda-tanda zaman dalam terang Injil.

Disrupsi ungkap Hendro, menggambarkan era yang ditandai perubahan yang besar atau signifikan, sekaligus cepat. “Filsuf Polandia Zygmund Bauman, dalam bukunya yang berjudul Liquid Modernity, menyatakan bahwa masa ini bercirikan modernitas yang cair, sangat dinamis, berubah cepat, tanpa dapat diprediksi. Dengan demikian, ciri utama masa ini menurut Bauman adalah: ketidakpastian dalam segala hal. Situasi yang sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya,” terangnya.
Dosen yang aktif menulis buku ini mengungkapkan bahwa disrupsi berdapak bagi dunia pendidikan di Perguruan Tinggi di Indonesia. Menurutnya, ada dua faktor pemicu yaitu kesenjangan ketrampilan (skills gap) yang dipacu oleh pesatnya perkembangan teknologi dan penurunan angka kesuburan (fertility rate) di seluruh dunia.
“Kemajuan pesat teknologi telah memicu perubahan besar dalam banyak aspek kehidupan dunia, termasuk pekerjaan. Sejumlah besar pekerjaan yang biasa dilakukan manusia akan punah atau berkurang drastis, karena digantikan oleh teknologi. Dan sejumlah pekerjaan baru akan muncul, walaupun pekerjaan baru ini tidak sebanyak pekerjaan yang hilang,” jelasnya.
“Banjir pengangguran dari lulusan perguruan tinggi telah terjadi di mayoritas negara dunia. Para lulusan terpaksa bekerja di bidang yang berbeda dengan kualifikasinya. Akibatnya, pendidikan perguruan tinggi makin kurang diminati. Hal ini diperparah dengan menguatnya lapangan pekerjaan baru yang bersifat informal (gig economy), seperti pekerjaan-pekerjaan di bidang seni, olahraga, online yang bertumbuh pesat,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan tentang penurunan populasi yang berdampak pada penurunan calon siswa di semua level pendidikan terutama perguruan tinggi. Menurutnya, hal ini terjadi karena banyak negara maju yang mengalami kekurangan orang muda, lalu dengan sekuat tenaga berusaha menarik orang muda dari negara lain ke negaranya. Hal ini ditempuh dengan memberi beasiswa perguruan tinggi dan visa bekerja.

“Akibatnya, terjadi penurunan drastis calon mahasiswa dalam negeri. Ini terjadi karena penurunan minat terhadap perguruan tinggi, pertumbuhan populasi yang menurun jauh dari masa-masa sebelumnya, dan arus besar calon mahasiswa yang hengkang keluar negeri,” ungkapnya.
Mengutip pendapat Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Disruption, Hendro menegaskan bahwa disrupsi bukanlah kiamat, melainkan perubahan zaman yang butuh disikapi secara tepat. Menurutnya ada dua langkah antisipatif yang harus dilakukan, yaitu suntikan modal (investasi baru) dan keberanian atau kemampuan untuk melakukan tindakan “amputasi” yang menyakitkan namun diperlukan, seperti merubah sistem dan menggeser orang.
Penulis buku Mempersiapkan Generasi Penyelamat ini juga mengungkapkan bahwa dunia yang berubah cepat membutuhkan bentuk spiritualitas, mentalitas, dan cara pikir baru. Fenomena strawbery generation dan brain roots, meningkatnya angka depresi, kegelisahan, bahkan bunuh diri kaum muda dan degradasi moral telah menunjukkan bahwa dunia butuh perbaikan karakter dan spiritualitas yang lebih baik.
Hendro mengusulkan dua hal penting sebagai inovasi di lingkungan UKMC, yaitu inovasi dalam pembentukan spiritualitas dan mentalitas serta inovasi dalam pendidikan kompetensi. Kendati menurutnya tidak ada satu resep mujarab untuk semua perguruan tinggi. Setiap perguruan tinggi harus meramu sendiri resepnya masing-masing berdasarkan masukan-masukan yang ada dan disesuaikan dengan kondisinya.

Mengakhiri orasinya, seraya mengucapkan selamat atas Dies Natalis Ke- 11 UKMC, Hendro kembali menegaskan bahwa disrupsi adalah realita kehidupan yang tidak bisa dihindari. Akan ada yang bertahan, ada yang punah, dan akan ada yang baru muncul. “Ini sesuai dengan prinsip multilinear evolution yang dikemukakan filsuf budaya masa ini, Julian H. Stewards. Semua pihak harus siap menghadapi ini sebagai bentuk tantangan dan tuntutan kehidupan. Manusia telah dibekali semua yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dengan situasinya. Apalagi bagi pendidikan Katolik, yang misinya lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan atau bisnis,” pungkasnya.
**RD. Titus Jatra Kelana
Foto: Dokumentasi UKMC
