Siapa itu Roh Kudus?

Pernahkah kamu melihat ornamen di atas? Apa sih makna lambang ini? Yes! Bener banget! Itu lambang Roh Kudus! Ngomong-ngomong, tahukah kalian siapakah Roh Kudus itu?

Dalam Credo Nicea Konstantinopel atau doa Aku Percaya versi panjang, kita, umat Katolik, menyatakan seperti ini:

“aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera. Yang serta Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan; la bersabda dengan perantaraan para nabi.”

Dari sini jelas, bahwa Gereja mengimani Roh Kudus adalah satu dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal Mahakudus. Kita mengenal Roh Kudus secara gamblang melalui Pribadi Tuhan Yesus, yang adalah Allah Putera. Dalam Injil Matius, Yesus memerintahkan para rasul untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19)

Saat karya penebusan dimulai, Malaikat Tuhan memberitahu Santo Yosef untuk jangan takut mengambil Maria sebagai istrinya, karena anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus (bdk. Matius 1:20). Sewaktu pembaptisan Tuhan Yesus di Sungai Yordan, langit terkoyak, Roh Kudus turun ke atas-Nya dalam rupa burung merpati di saat yang sama Allah Bapa bersabda dari surga, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (bdk. Matius 3:16-17).

Juga ada begitu banyak kisah tentang Roh Kudus dalam Kitab Suci Perjanjian baru. Lantas, apakah Roh Kudus baru ada sejak jaman Yesus? Tentu tidak! Jika demikian, Dia bukanlah Allah.

Roh Kudus adalah Allah, yang ada jauh sebelum dunia dijadikan. Dia berada bersama Bapa dan Putra. Dalam Kitab Kejadian dikatakan, ketika bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1:2).

Dalam kisah penciptaan manusia, Allah membentuk manusia dari debu dan tanah. Lantas menghembuskan nafas kehidupan dalam hidung manusia. Nafas Allah juga bermakna Roh-Nya yang Ia hembuskan (bdk. Kejadian 2:7).

Lalu, Katekismus Gereja Katolik nomor 704 mengajarkan bahwa “Allah membentuk manusia dengan tangan-Nya sendiri (artinya dengan Putera dan Roh Kudus)… dan Ia memeteraikan rupa-Nya sendiri pada daging yang sudah dibentuk, sehingga yang kelihatan itu pun membawa rupa ilahi” (Ireneus, dem. 11).

Lantas, Roh Kudus bersabda lewat perantaraan para nabi dalam Perjanjian Lama. Misalnya, dalam Kitab kedua Samuel dikatakan, “Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku” (2 Samuel 23:2). Roh Kudus yang berdiam dalam diri Yehezkiel, menjadikannya taat pada peraturan dan ketetapan Allah (bdk. Yehezkiel 36:27).

Jadi, Roh Kudus sudah ada sejak dahulu kala bersama Bapa dan Putra. Sederhananya: Bapa menciptakan, Anak menebus dan Roh Kudus mengilhami dan menghidupkan.

Sebelum Putra naik ke surga, Dia menjanjikan Roh Kudus kepada para murid-Nya. Kata-kata Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes tentang Roh Kudus sangat jelas “Tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku” (Yohanes 16:7.13-15).

Jadi, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). Allah mengirim “Roh Putera-Nya dalam hati kita, Roh, yang berseru: Abba, Bapa” (Gal 4:6). Pengertian iman ini hanya mungkin dalam Roh Kudus (KGK 683).

Menutup katekese ini, kisah ini kiranya menginspirasi kita. Suatu hari Santo Agustinus sedang berjalan di pantai sambil merenungkan misteri Tritunggal Mahakudus. Dia melihat seorang anak kecil menuangkan seember air ke dalam lubang yang telah dia gali.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Agustinus. “Aku akan mengosongkan laut ke dalam lubang ini,” jawab anak itu.

“Kamu tidak akan pernah memasukkan seluruh lautan ke dalam lubang itu,” kata Agustinus.

‘Dan kamu,’ jawab anak laki-laki itu ‘tidak akan pernah bisa memasukkan misteri Tritunggal ke dalam pikiranmu.’

Misteri Allah Tritunggal memang tidak dapat sepenuhnya dimengerti manusia, tetapi manusia tetap diberi hikmat untuk mengimaninya. “Aku Percaya supaya mengerti, dan aku mengerti supaya percaya lebih baik” – St. Augustinus

Mari kita mengenal Dia dengan bantuan Roh Kudus-Nya. Selamat menyongsong Pentakosta.

**Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.