Dari Palembang ke Yogyakarta: Kongregasi FCh Wujudkan Belaskasih yang Tak Terbagi

Di sebuah sudut tenang di Klepu, Sleman, sebuah perubahan fisik yang anggun membawa pesan spiritual yang mendalam. Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli kini tampil dengan wajah baru. Sebuah perpaduan harmoni antara arsitektur modern dan kedalaman makna pelayanan yang telah mengakar selama satu abad.

Warisan Kasih dari Roosendaal

Kongregasi suster St. Fransiskus Charitas (FCh) didirikan oleh Muder Theresia Saelmakers di Oosterhout, Breda, Belanda, pada 01 Desember 1834. Jejak langkah para suster Kongregasi FCh di Indonesia bermula dari sebuah janji suci pada 11 Juni 1926. Lima suster perintis dari Roosendaal, Belanda, berlayar melintasi samudra demi membawa misi “Charitas,” kasih tanpa syarat ke Indonesia. Mereka adalah Sr. Raymunda Hermans, Sr. Wilhelmina Blesgraaf, Sr. Caecilia Luyten, Sr. Alacoque van der Linden, dan Sr. Chatarina Koning. Di tengah ketidakpastian dan tanpa mengetahui pasti apa yang menanti di depan, mereka memantapkan hati untuk menjawab panggilan kemanusiaan, membawa karisma Compassio Indivisa – belas kasih yang tak terbagi.

Setibanya di Palembang pada 9 Juli 1926, para suster segera terjun ke medan pelayanan yang keras, merawat orang sakit tanpa memandang latar belakang. Inilah fondasi utama yang kemudian melahirkan jaringan pelayanan kesehatan Charitas. Meski dalam sejarah awal  tertulis di Palembang, semangat Santo Fransiskus Assisi yang dibawa tak terbendung, mengalir hingga ke pelosok Nusantara, salah satunya di Klepu, Yogyakarta.

Klepu: Estafet Kasih di Kaki Gunung Merapi

Karya pelayanan di Klepu bermula dari cita-cita masyarakat untuk mendirikan pusat pelayanan kesehatan. Mimpi itu didukung oleh Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu kala itu, Romo Hendrikus Taks SJ. Ia pun menjalin kerja sama dengan Kongregasi Suster St. Fransiskus Charitas (FCh) dan memprakarsai berdirinya Yayasan Kesejahteraan Kesehatan Rakyat (YKKR) St. Fransiskus Klepu.

Para suster di Komunitas Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Melalui yayasan itu, pada 3 Agustus 1970 karya kesehatan pun dimulai dengan membangun gedung Balai Pengobatan (BP) dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Bangunan itu diresmikan pada 26 April 1971. Untuk mendukung pelayanan, Kongregasi FCh pun mengutus Sr. M. Aloysia FCh yang berasal dari Promasan, Kulon Progo sebagai perawat dan Sr. M. Bernarda FCh yang berasal Sumber, Sendangmulyo sebagai bidan. Mereka tiba di Klepu pada Februari 1971 dan tinggal sementara di rumah Keluarga Djakarsa di Japanan, Sendangmulyo.

Inilah awal hadirnya Biara Charitas Santa Maria Degli Angeli Klepu. Nama ini merujuk pada kapel kecil di Italia tempat Santo Fransiskus dahulu memulai karyanya. Biara ini menjadi rumah bagi para suster yang mendedikasikan hidup dan pelayanannya bagi Gereja dan sesama yang berfungsi sebagai “sumur spiritual” bagi para suster yang berkarya di  Klepu.

Karya pelayanan BP dan BKIA pun berkembang, layanan  Rumah Bersalin (RB) dibuka pada 11 September 1971 dan Rawat Inap mulai Februari 1979. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya pada 10 Desember 1988 karya ini berdiri menjadi Rumah Sakit Baktiningsih Klepu yang sekarang dikenal dengan sebutan Charitas Hospital Klepu. Jika dahulu para suster perintis bekerja dalam bangunan yang bersahaja, kini di ambang satu abad pengabdian, biara ini tampil dengan wajah yang lebih segar dan kokoh.

Pemeriksaan kesehatan pensiunan dan sahabat charitas.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Arsitektur dalam Pelukan Spiritual

Wajah baru biara ini mencerminkan dinamika zaman tanpa kehilangan roh kesahajaannya. Melalui rancangan yang modern namun tetap mengedepankan tradisi monastik, gedung baru seluas 848 meter persegi ini berdiri sebagai oase ketenangan.

Fasilitas baru tersebut mencakup dua lantai yang dirancang untuk mendukung pola hidup berkomunitas, Lantai I menjadi pusat gravitasi sosial dan rohani dengan adanya kapel, ruang makan, dan area rekreasi; sedangkan Lantai II merupakan deretan ruang tidur bagi para suster yang dilengkapi jembatan penghubung antar sayap gedung yang estetis.

Gaya arsitektur ini tak hanya soal estetika, tetapi tentang menciptakan ruang di mana doa dapat melambung lebih tinggi dan keheningan dapat menyembuhkan batin.

Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memberkati Kapel Biara.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Jantung Pelayanan: Dari Kapel ke Bangsal

Keberadaan Biara Charitas Klepu tidak bisa dipisahkan dari Charitas Hospital Klepu.Jika biara adalah paru-parunya, maka rumah sakit adalah tangannya. Di sinilah integrasi antara doa dan kerja (ora et labora) terjadi secara nyata.

Pada Februari 2025, langkah besar diambil dengan peresmian Gedung Asisi oleh Wakil Bupati Sleman. Peresmian ini, bersamaan dengan pembukaan gedung Unit Gawat Darurat (UGD) yang modern pada Desember 2024, menandai era baru pelayanan kesehatan yang didorong oleh semangat para suster FCh. Di balik peralatan medis yang canggih, hadir sentuhan kasih para suster yang hidup seturut nilai kemiskinan, kedinaan, dan pertobatan—pilar-pilar yang para suster asah setiap hari di dalam doa, cara hidup, serta kharisma Muder Theresia Saelmakers.

Bakti Sosial oleh Rumah Sakit Charitas Klepu.
| Foto: Dok. Charitas Klepu

Menyongsong Satu Abad Charitas

Tahun 2026 menjadi tonggak bersejarah bagi Kongregasi FCh yang akan merayakan 100 tahun kehadirannya di Indonesia. Wajah baru Biara Charitas Klepu adalah salah satu kado istimewa bagi perjalanan panjang tersebut. Biara ini berdiri tegak sebagai simbol janji dan kesetiaan dalam melayani kaum miskin dan mereka yang sakit, seolah melihat cerminan semangat kelima suster perintis yang tetap hidup.

Bagi masyarakat Sleman, biara ini bukan sekadar bangunan megah di pinggir jalan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah bisingnya dunia, ada tempat di mana doa-doa dilantunkan dan dari doa-doa itulah lahir tindakan kasih yang menyentuh ribuan nyawa di rumah sakit.

Meski bangunan telah berganti rupa dan zaman telah berubah modern, napas pelayanan suster-suster FCh di Klepu tetap sama: doa, kemiskinan, kedinaan, dan pertobatan. Biara dan Charitas Hospital Klepu dengan segala fasilitas barunya siap melangkah maju membawa semangat Muder Theresia Selmakers sebagai pendiri kongregasi dan warisan kasih Sr. Raymunda Hermans dan para sahabatnya untuk terus merawat, menyembuhkan, dan mencintai sesama.

Karyawan-Karyawati RS. Charitas Klepu
| Foto: Dok. Charitas Klepu

**Sr. M. Teresa FCh dan Sr. M. Petri FCh (Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published.