Fr. Bednadetus Aprilyanto: Jalan Panjang Menuju Imamat

Fr. Bednadetus Aprilyanto, demikian namanya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang lahir di Lubuk Seberuk, 9 April 1993 dari pasangan Yusuf Saryanto dan Maria Umiyati. Keinginannya menjadi imam telah tumbuh sejak kecil, saat ia berjumpa dengan seorang imam yang berkarya di paroki asalnya, Paroki Kristus Raja Tugumulyo OKI. Suatu ketika, romo yang ia kagumi karena ramah dan dekat dengan anak-anak itu datang mengunjungi rumahnya. Ia dipanggil dan dipangku. Pengalaman sederhana itu menyentuh hatinya untuk menjadi imam.

Fr. Bednadetus Aprilyanto

Dari Lubuk Seberuk, ia kemudian melanjutkan studinya di SMP Xaverius Baturaja dan tinggal di Panti Asuhan Rumah Yusup. Di Baturaja benih panggilan semakin bertumbuh. Ia pun dengan mantap mengikuti tes saringan masuk Seminari Menengah St. Paulus Palembang dan diterima. Masa-masa pembinaan pun mulai ia jalani di seminari. Pada masa ini, ia hanya menyelesaikan jenjang SMA dan tidak diperkenankan lanjut ke kelas Rhetorika A.

Tak patah arang, sembari menata diri, ia pun melanjutkan pendidikan di AMIK DCC Lampung yang memiliki kampus di Tugumulyo OKI. Setelah wisuda, ia pun bekerja di RS St. Antonio Baturaja. Saat menjalani hari-hari sebagai karyawan, panggilannya untuk menjadi imam muncul kembali dan mendorongnya untuk melanjutkan jalan yang pernah ia pilih. Setelah melalui aneka pergumulan, melalui bimbingan para imam yang ia temui, ia pun menyadari bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mencintainya dan terus memanggilnya. Akhirnya, dengan mantap ia kembali masuk seminari dan melanjutkan jalan panggilannya sebagai calon imam. Ia memutuskan ingin mengabdikan dirinya untuk karya pelayanan umat di Keuskupan Agung Palembang dengan menjadi calon imam diosesan.

Dari Palembang perjalanan itu berlanjut ke Tahun Orientasi Rohani (TOR) St. Markus dan Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar. Dari Siantar ia belajar berpastoral dengan menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yosef Pekerja, Tanjung Enim dan masa Pendalaman Pastoral di Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAPal dan Paroki St. Maria Ratu Rosario Seberang Ulu, Palembang.

Motto hidup dan panggilannya adalah  “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah. (Lukas 9:62). Motto inilah yang senantiasa menyemangati perjalanan panggilannya hingga ia mantap ditahbiskan menjadi diakon.

***TJK (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.