Fr. Sebastianus Wahyudi, atau yang akrab disapa Fr. Wahyudi, adalah seorang calon imam diosesan Keuskupan Agung Palembang yang berasal dari Paroki Katedral Kristus Raja Tanjung Karang. Calon imam yang memiliki kisah hidup luar biasa tentang ketangguhan dan penyertaan Tuhan ini lahir di Boyolali, 21 Januari 1991 dari pasangan Muladi (alm) dan Katarina Sudarti. Masa kecilnya diuji dengan kehilangan sosok ayah yang meninggal dunia saat ia baru berusia empat tahun. Ia tumbuh besar dalam kesederhanaan di bawah asuhan ibunya yang luar biasa, yang berjuang keras sebagai pembantu rumah tangga demi memastikan Wahyudi dan adiknya tetap bisa bersekolah. Dari sang ibu, ia belajar arti pengorbanan, kerja keras, dan keteguhan hati yang menjadi dasar pembentukan karakternya hingga saat ini.

Perjalanan imannya dimulai secara unik melalui peran sebuah keluarga Katolik di Lampung yang mengangkatnya menjadi anak asuh. Meski tidak lahir dalam keluarga Katolik, kasih sayang dan bimbingan nilai-nilai kejujuran serta disiplin dari orang tua angkatnya perlahan menumbuhkan benih iman dalam dirinya. Wahyudi akhirnya memutuskan untuk menerima Sakramen Baptis pada tahun 2006 di Paroki Sang Penebus Batu Putih. Kebahagiaan imannya pun semakin lengkap ketika sang ibu kandung juga menyusul menerima Sakramen Baptis pada Paskah tahun 2023.
Dalam perjalanan waktu, ia pun menyatakan keinginannya untuk menjadi imam Keuskupan Agung Palembang. Pembinaan awal sebagai calon imam ia mulai di Pastoran Katedral St. Maria dan Seminari Menengah St. Paulus Palembang. Dari Palembang ia berangkat mendalami panggilan sebagai calon imam diosesan di Tahun Orientasi Rohani (TOR) St. Markus dan Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar. Dari Siantar ia diutus belajar berpastoral dengan menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Paulus Muara Bungo, Jambi.
Aneka pengalaman semakin memantapkan hatinya untuk melayani Tuhan sepenuhnya. Dengan bekal yang telah diperoleh selama pembinaan, Fr. Wahyudi membawa semangat pelayanan yang inklusif dan rendah hati. Ia memegang teguh motto panggilan: “Berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu mendengar” (1Sam 3:10), sebuah komitmen untuk selalu setia mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah dalam setiap langkah hidupnya.
***TJK (Redaksi)
