Perjalanan panggilan Fr. Fransiskus Mujiono SCJ bermula dari kekaguman masa kecil yang sangat sederhana di stasi asalnya, Pagar Gading, Paroki Kabar Gembira Kotabumi, Keuskupan Tanjungkarang. Anak pertama dari tiga bersaudara yang lahir di Pagar Gading, 3 Oktober 1996, ini merupakan putra dari pasangan Romulus Temon dan Yuliana Sriyati. Ketertarikannya untuk menjadi imam bermula dari melihat indahnya pakaian kasula yang dikenakan imam. Kekaguman itu semakin diperkaya dengan pengalaman keramahtamahan para imam serta kebiasaan keluarganya yang sering menjadikan rumah mereka tempat berkumpulnya umat dan Sekolah Minggu. Kekaguman sederhana itu perlahan bertumbuh menjadi rasa cinta yang mendalam terhadap Gereja dan panggilan menjadi imam.

Fr. Mujiono mulai menanggapi panggilannya secara serius dengan masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang pada tahun 2012. Di sana, ia belajar tentang kedisiplinan dan persaudaraan, hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Perjalanan panggilannya bukanlah jalan yang selalu mudah, namun ia terus melangkah melalui masa pembinaan di Postulat dan Novisiat St. Yohanes Gisting, masa studi filsafat teologi di Yogyakarta hingga menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral dan Panggilan (TOPP) di Paroki St. Yohanes Pembaptis Perawang, Riau dan Paroki St. Maria Tak Benrona Tegalrejo, Belitang.
Kini, Fr. Mujiono sedang menjalani masa Pengolahan Pastoral (Penpas) di Paroki St. Gregorius Agung, Jambi. Dengan motto panggilan “Inilah aku, utuslah aku” (Yesaya 6:8), ia meyakini bahwa Tuhan tidak memanggil orang yang sudah sempurna, melainkan mereka yang percaya bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar daripada rasa takut. Baginya, setiap tahap kehidupan adalah karya rahmat Allah yang setia menuntun langkahnya untuk melayani umat.
***TJK (Redaksi)
