PW St. Paulus Miki
Sir. 47:2-11; Mzm. 18:31,47,50,51; Mrk. 6:14-29; BcO Kej 35:1-29.

Kebenaran yang Dibungkam, Namun Tidak Pernah Mati
Saudara-saudari yang terkasih, Injil yang kita dengarkan hari ini menyajikan sebuah kisah yang sangat bermakna bagi kehidupan iman kita. Injil mengisahkan Yohanes Pembaptis yang dipenjara dan akhirnya dibunuh bukan karena kesalahan yang ia lakukan, melainkan karena keberaniannya mewartakan kebenaran. Yohanes tidak wafat di medan pertempuran, melainkan di tengah suasana pesta; ia mati bukan oleh serangan musuh, tetapi oleh keputusan yang lahir dari hawa nafsu, gengsi, dan ketakutan akan penilaian orang lain.
Raja Herodes sebenarnya menyadari bahwa Yohanes adalah seorang yang benar dan kudus. Namun persoalan Herodes bukan terletak pada ketidaktahuan akan kebenaran, melainkan pada ketidakmampuannya untuk hidup seturut kebenaran itu. Ia terbelenggu oleh jabatan, oleh sumpah yang diucapkan secara gegabah, serta oleh tekanan lingkungan sekitarnya. Demi mempertahankan citra diri dan gengsi di hadapan orang banyak, Herodes akhirnya mengorbankan kebenaran.
Pesan Injil ini sangat dekat dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kita sering kali mampu membedakan yang benar dan yang salah, sebab suara hati nurani kerap berbicara dengan jelas. Namun demi rasa aman, penerimaan sosial, atau untuk menghindari konflik, kita memilih untuk diam, menunda sikap, berkompromi dengan keadaan, bahkan membenarkan kesalahan. Melalui teladan Yohanes Pembaptis, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kebenaran memang tidak selalu membawa kenyamanan, tetapi kebenaran selalu membawa kebebasan.
Saudara-saudari yang terkasih, pada hari ini Gereja juga mengenang Santo Paulus Miki dan rekan-rekannya, para martir dari Jepang yang wafat karena iman kepada Kristus. Melalui kesetiaan dan pengorbanan mereka, kita diingatkan bahwa kematian bukanlah akhir segalanya. Justru melalui kesaksian para martir, iman Gereja semakin diteguhkan dan Injil terus hidup sampai sekarang. Kebenaran mungkin ditekan, tetapi tidak pernah dapat dimusnahkan.
Semoga melalui permenungan Injil hari ini, kita dikuatkan untuk tidak hanya mengenal dan mengagumi kebenaran, tetapi juga menghidupi kebenaran itu dalam tindakan nyata. Dengan meneladani Yohanes Pembaptis serta Santo Paulus Miki dan para martir lainnya, marilah kita berani menjadi saksi Kristus di tengah dunia, dengan hati yang tulus, iman yang kokoh, dan keberanian yang bersumber dari kasih kepada Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yohanes Deo-Tingkat III
Foto: Pinterest
