Puasa Adalah Perjalanan Rohani Menyadari Kerapuhan Manusia

Foto : Komsos KAPal

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan sebuah perjalanan rohani untuk menyadari kerapuhan tubuh dan kehidupan manusia. Hal itu disampaikan RP Vincentius Sri Herimanto, SCJ dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Rabu Abu, Rabu (18/2/2026) pukul 07.00 WIB di Gereja Katolik Hati Kudus Palembang.

Dalam homilinya, Romo Vincentius yang akrab disapa Romo Vin mengatakan bahwa masa puasa mengajak umat beriman memasuki keheningan batin, merasakan keterbatasan diri, serta menyadari bahwa kenyamanan duniawi kerap membuat hati menjauh dari Allah.

Romo Vin | Foto : Komsos KAPal

Menurutnya, ketika Gereja mengundang umat untuk berpuasa, umat sedang diajak mengalami berbagai bentuk ketidaknyamanan. Dari pengalaman tersebut, lahir kesadaran bahwa rasa aman dan puas yang bersumber dari hal-hal duniawi bukanlah kekuatan sejati.

“Sumber kekuatan sejati hanyalah Allah,” ujarnya.

Romo Vin juga menjelaskan makna puasa dan pantang pada hari Rabu Abu. Ia menegaskan bahwa puasa menjadi kesempatan untuk mengalami penderitaan kecil sebagai bentuk persatuan dengan Allah. Dalam kebersatuan itu, umat diajak untuk tidak lagi diliputi rasa takut, melainkan menyerahkan hidup sepenuhnya dalam penyelenggaraan Tuhan.

Foto : Komsos KAPal

Selain itu, ia menyoroti berbagai hal dalam keseharian yang tanpa disadari dapat menghalangi kedekatan dengan Tuhan, seperti keinginan untuk marah, penggunaan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, hingga ketergantungan pada gawai. Pada masa Rabu Abu, umat diajak untuk berani mengurangi penggunaan gadget sebagai latihan pengendalian diri.

“Semakin besar ketergantungan, semakin muncul rasa tidak puas, bahkan dapat mengganggu kesehatan rohani dan jasmani,” katanya.

Pastor Kepala Paroki Hati Kudus itu juga mengingatkan umat akan makna simbol abu yang diterima di dahi pada Rabu Abu. Seruan “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” menjadi pengingat akan kerapuhan hidup manusia.

Foto : Komsos KAPal

Menurutnya, abu melambangkan bahwa segala kenikmatan dan pencapaian dunia pada akhirnya tidak berarti di hadapan Allah. Ia menegaskan bahwa Allah tidak menuntut kekayaan atau keberhasilan manusia, melainkan hati yang percaya pada kuasa dan belas kasih-Nya.

“Menerima abu berarti mengosongkan diri di hadapan Tuhan. Ia tidak melihat penampilan luar, melainkan kedalaman hati. Masa puasa dan Rabu Abu menjadi saat istimewa untuk bertobat, memperbarui iman, serta kembali menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan,” tandasnya.

***Yuyuani Daro

Leave a Reply

Your email address will not be published.