
Menjelang Hari Raya Paskah, ada satu momen istimewa di Gereja Katedral yang disebut Misa Krisma. Di momen ini, Uskup bersama seluruh imam di keuskupan berkumpul. Suasananya biasanya terasa sangat hangat dan penuh persaudaraan.
Setelah menjalani Hari Studi Imam dengan tema Dari Devosi Menuju Aksi Pastoral: Paroki Tanggap Bencana dan Kaderisasi Demi Gereja yang Berdaya, para imam se-Keuskupan Agung Palembang (KAPal) akan merayakan Misa Krisma di Gereja Katedral St. Maria yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Kamis (5/3/2026) petang. Tapi, sebenarnya apa sih yang bikin misa ini begitu penting buat kita semua?
Simbol Berkat Bagi Gereja
Dalam misa ini, Uskup memberkati minyak-minyak suci, yaitu Oleum Catechumenorum (OC) atau Minyak Katekumen, Oleum Infirmorum (OI) atau Minyak Orang Sakit, dan Sanctum Chrisma (SC) atau Minyak Krisma Suci. Minyak-minyak inilah yang nanti dipakai untuk melayani seluruh umat dalam sakramen-sakramen sepanjang tahun, menandakan bahwa rahmat Tuhan selalu baru dan tak pernah habis mengalir bagi kita semua.
Janji yang Diperbarui
Bagi para imam, Misa Krisma adalah momen “pulang ke rumah”. Di hadapan Uskup dan umat, mereka kembali mengucapkan Pembaruan Janji Imamat. Bayangkan para imam yang selama setahun ini mungkin lelah dalam pelayanan karena menghadapi berbagai persoalan umat, hingga pergulatan pribadi, berdiri bersama untuk menjawab kembali “Ya, saya bersedia” dengan suara lantang.
Ini bukan sekadar seremoni formalitas, tapi momen untuk mengingat kembali alasan pertama mereka berkata “Ya” kepada Tuhan. Di tengah tantangan zaman yang makin berat, para imam butuh berhenti sejenak untuk menata ulang prioritas hati dan memurnikan kembali motivasi pelayanan mereka.
Kita Berjalan Bersama
Melihat para imam berkumpul bukan berarti mereka eksklusif, justru sebaliknya. Momen ini mengingatkan kita bahwa imam dan umat adalah satu tubuh. Para imam berjanji untuk setia melayani, dan kita sebagai umat diajak untuk terus mendukung serta mendoakan mereka. Tanpa doa umat, beban pelayanan mereka tentu akan terasa jauh lebih berat. Pembaruan janji ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa imam juga manusia yang butuh penguatan. Misa Krisma adalah simbol kesatuan bahwa seorang imam tidak berjalan sendirian, dan umat pun tidak dibiarkan berjalan tanpa gembala.
Melalui Misa Krisma, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus adalah tentang terus-menerus membarui diri dan saling menguatkan. Paskah pun jadi lebih bermakna karena kita menyambutnya dengan hati yang sudah diperbarui, sembari terus mendoakan para gembala kita agar tetap setia dan penuh sukacita dalam melayani.
***TJK (Redaksi)
