Renungan Harian Sabtu, 14 Maret 2026

Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21ab; Luk. 18:9-14; BcO Kel. 40:16-38; (U)

Damai bersama Yesus

Menemukan Kedamaian

Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan pertama hari ini kita mendengarkan doa Azarya di tengah situasi yang sangat mencekam. Bayangkan diri kita berada di posisinya: terpojok dalam keadaan yang terasa membakar seperti tanur api. Namun di tengah tekanan itu Azarya tidak memberontak atau menuntut mukjizat secara instan. Ia justru datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, menyerahkan seluruh ketidakberdayaannya sebagai persembahan. Dari sikap ini kita belajar bahwa ketika hidup terasa menghimpit, kekuatan terbesar justru lahir dari keberanian untuk bersandar sepenuhnya pada belas kasih Tuhan.

Sikap percaya itu membantu kita menyadari betapa besar pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan. Kita bagaikan hamba yang utangnya sangat besar, tetapi oleh kemurahan hati Sang Raja semuanya dihapuskan. Tuhan tidak menghitung kesalahan kita satu per satu; Ia memulihkan martabat kita dengan cinta yang tanpa syarat. Kesadaran bahwa hidup kita ditopang oleh belas kasih Tuhan seharusnya membuat hati kita menjadi lebih lembut.

Namun sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Kita merasa lega ketika diampuni, tetapi berubah menjadi keras ketika orang lain bersalah kepada kita. Kita dengan mudah menggenggam kesalahan kecil orang lain, sementara kesalahan besar kita sendiri telah diampuni oleh Tuhan. Di situlah letak ironi kehidupan rohani kita: kita ingin dibebaskan, tetapi kita sendiri yang mengunci hati dengan dendam dan kepahitan.

Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali masuk ke dalam hati dan melihat apa yang masih kita simpan di sana. Mungkin ada nama, peristiwa, atau luka lama yang belum kita lepaskan. Tuhan mengundang kita untuk berani melepaskan beban itu. Mengampuni memang tidak selalu mudah, tetapi di sanalah kita belajar meneladani hati Tuhan yang penuh belas kasih.

Ketika kita berani melepaskan dendam dan membuka hati bagi pengampunan, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi kasih Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita. Hati yang mengampuni adalah hati yang merdeka. Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini kita semakin belajar menjadi pribadi yang rendah hati, mudah mengampuni, dan semakin menyerupai hati Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Norbertus Bidho-Tingkat I

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.